Jurnal Keluarga,  Pernikahan

Haruskah Menikah?

Semalem aku nonton film pendek di youtube judulnya Kisah 3 Tahun diproduksi oleh Chandu Studio. Pemeran utamanya dua orang pasangan muda laki-laki dan perempuan yang digambarkan tinggal dalam satu rumah. Awalnya, aku pikir mereka punya ikatan pernikahan. Antara yakin dan nggak yakin, di tengah cerita aku sempat ngebatin perasaan kalau sudah nikah nggak semanis itu ya hubungan. Nggak manis dalam pernikahan bukan berarti kami nggak saling cinta. Tapi seperti ada hal-hal yang lebih penting dibahas dari sekedar haha hihi biasa. Dan pasangan tersebut, menjalin hubungan tiga tahun kalau ada ikatan perniakahan dan belum punya anak pasti konfliknya nggak jauh-jauh itu. Kecuali kalau mereka memang sepakat tidak punya anak, sih. Ternyata, mereka malah sepakat untuk tidak menikah.

Jadi, di akhir cerita ketahuan kalau ternyata mereka itu belum ada ikatan pernikahan. Sebenarnya si cewek ingin menikah. Tapi cowoknya semacam punya trauma tersendiri dengan pernikahan. Baginya, menikah itu bukan jalan untuk bahagia. Kalau bahagia dengan menjalani hubungan seperti itu kenapa harus menikah? Komentar netizen pun beragam. Kebanyakan sih yang aku baca mendukung ceweknya dan menganggap prinsip yang cowok salah.

 

Pernikahan Memang Bukan Untuk Bahagia

Ya, setuju juga sih sama si cowoknya kalau pernikahan itu nggak bisa bikin bahagia. Tapi bukan berarti aku menikah sekarang ini nggak bahagia, loh. Bahagia pasti ada. Tapi yang jelas banyak tantangannya. Aku bilang tantangan, karena memang ini seperti perjanan berliku yang setiap bagiannya harus diselesaikan. Kalau bisa menyelesaikan tantangan ya bakal naik level. Dan aku yakin setiap hat yang ditata untuk sabar dan iklas pasti ada pahala dalam suatu pernikahan.

 

Pernikahan Lebih dari Ikatan Suci

Kata orang, perniakahan merupakan ikatan suci dua insan. Menurutku lebih dari sekedar itu. Kalau ikatan suci sudah menggambarkan segalanya dalam sebuah ikatan perniakahan, bagiku pernikahan adalah kesepakatan hati dengan diri sendiri. Iya, kesepakatan bahwa hati ini siap berbagi dan memberi. Cara pandang bahwa orang lain menikah belum tapi tidak bahagia, mungkin harus diluruskan. Karena setiap orang punya cerita sendiri-sendiri. Jika dikata pernikahan itu sulit, ya memang sulit. Karena menyatukan dua kepala dua hati dalam satu visi misi butuh proses yang panjang. Intinya sih, kalau sudah siap berbagi lahir dan batin dengan seseorang ya tidak ada salahnya menikah. Kuncinya berbagi tanpa berharap macam-macam dari pasangan. Nah, tuh kalau masih berharap sebelum berbagi ya jangan harap penikahan mendatangkan kebahagiaan.

 

Memantapkan Tujuan Menikah

Jadi, apa tujuanmu menikah? Iya, kalau tujuannya bahagia lebih baik jangan. Menikah itu proses pendewasaan. Disana kita belajar saling menerima. Tujuan yang tepat menurutku adalah membangun bahtera kehidupan yang lebih baik. Standar kebaikan itu yang harus disamakan setiap pasangan. Namanya bahtera, didalamanya ada berbagai asepek yang perlu diperhatikan. Mulai dri amunisinya, tenaga penggeraknya, dan segala macamnya agar bahtera itu bisa mengarungi kehidupan dengan lebih baik. Versi lebih baik dalam setiap keluarga inilah yang jadi pembeda. Maka, kalau dalam pernikahan tidak segera dibahas bahtera apa yang akan dibuat dan perjalanan apa yang akan diarungi, ya bisa jadiĀ  pernikahan itu lama-lama menjadi kering dan kandas dengan sendirinya.

 

Menikah Lalu Punya Anak

Apakah setiap pernikahan itu harus punya anak? Apakah tujuan menikah itu adalah punya anak? Tapi kembali lagi, jika tujuan pernikahan belum diluruskan, anak juga butuh pendidikan dan pengarahan untuk menjadi manusia yang utuh. Maka menurutku, bangun pernikahan yang utuh dulu baru pikirkan untuk menikah untuk anak. Tapi ada juga yang memang karena kehadiran anak pernikahan jadi utuh. Sebenarnya yang tidak aku setuju membuat perniakahan seolah-olah utuh demi anak.

 

Jadi, Haruskah Menikah?

Kembali pada tujuan, untuk apa menikah.

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *