Keluarga,  Seputar Anak

Cara Indra Brasco Lawan Kekerasan Berbasis Gender pada Anak

Kekerasan berbasis gender dengan korban anak memang perlu perhatian kusus. Menurut data yang dipaparkan oleh Yayasan Pulih Jakarta sebanyak 3296 anak perempuan dan 1319 anak laki-laki menjadi korban kekerasan selama 1 Januari sampai 24 Juli 2020. Kekerasan ini berwujud tindakan fisik ataupun psikis yang merendahkan, melecehkan, atau menyerang seksualitas tubuh atau fungsi reproduksi orang lain secara paksa atau tanpa persetujuan.

Anak merupakan salah satu kelompok yang rentan menjadi korban kekerasan berbasis gender ini. Lebih-lebih, anak berpotensi mengalami penelantaran, perdagangan, dan pemerkosaan. Penyebabnya dipicu oleh kurangnya komunikasi dan perhatian dari orang tua kepada anak. Selain itu, penghargaan atas otoritas tubuh anak juga kurang diperhatikan.

Kesalahan yang sering kali terjadi dalam lingkungan kita, anak dianggap hak milik orang tua yang menimbulkan sikap orang tua untuk bebas memberintah dan memberikan isntruksi pada anak tanpa mendengarkan apa yang dia mau dan dia rasakan. Jika ini terus-terusan dibiarkan, anak tidak belajar bagaimana menjaga otoritas atas tubuhnya. Dia tidak belajar bagaimana cara melawan sesuatu yang tidak dia inginkan. Bujukan pun menjadi mudah untuk dia laksanakan.

Masalahnya, tidak setiap saat orang tua bisa selalu berada di dekat anak untuk mengawasi anak 24 jam penuh. Apalagi, jika anak sudah mulai tumbuh remaja dan mulai bergaul dengan teman-teman sebayanya. Di tengah derasnya arus informasi dan berbagai media yang penuh keterbukaan, alangkah lebih baik jika orang tua membekali anak-anaknya dengan nilai-nilai dasar untuk lawan kekerasan berbasis gender.

Seorang influencer  public figur sekaligus Ayah yang cukup inspiratif di dunia parenting Indra Brasco dalam sesi webinar 15 yang diselenggarakan Program Cerdas Berkarakter Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan berjudul Anti Kekeraan Berbasis Gender, mengatakan komunikasi dua arah antara orang tua dan anak sangat penting untuk mencegah kekerasan berbasis gender pada anak. Tidak ada salahnya, seorang Ayah meluangkan waktu untuk berdirkusi dengan anaknya soal apapun termasuk soal sex. Komunikasi antara guru di sekolah dengan orang tua juga harus diluangkan waktunya. Menyerahkan anak pada sekolah bukan berarti orang tua lepas kontrol. Selain memberikan bekal dari rumah, orang tua juga harus bisa melakukan kontrol lewat komunikasi dengan guru-gurunya.

Indra juga menceritakan bagaimana dirinya sebagai Ayah melakukan hal kecil untuk mengajarkan lawan kekerasan berbasis gender. Seperti meminta maaf atau permisi saat membuka baju anaknya. Tujuannya, untuk mengajarkan anak tentang otoritas tubuhnya. Bagaimana anak akan menghargai tubuhnya dimulai dengan cara bagaimana orang tua menghargai tubuh anaknya sendiri.

Bapak empat anak ini juga memberi tahu kepada anak-anaknya siapa saja yang boleh membuka bajunya. Seperti Ayah dan Ibunya, ataupun dokter yang tentu saja saat didampingi orang tua. Keberanian untuk menolak paksaan dari orang lain yang membuat anak tidak nyaman, selalu Indra tekankan pada anak-anaknya sejak kecil. Indra juga menghimbau pada anaknya untuk tidak takut menceritakan  apabila anaknya dipaksa orang lain melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.

 

#CerdasBerkarakter #BlogBerkarakter #AksiNyataKita #LawanKekerasanBerbasisGender #BantuKorbanKekerasan

Catatan : Sumber Foto dari IDN Times

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *