Law

Yuk, Lawan Kekerasan Berbasis Gender di Sekitar Kita dengan Cara Ini!

Sebut saja, namanya Mawar (nama samaran). Sore itu, dia datang kepadaku dengan wajah lesu. Katanya, suaminya mengajukan talak di Pengadilan Agama setempat. Merasa tidak terima, ternyata perempuan dengan tiga anak ini laporkan suaminya ke polisi sebelum datang padaku. Laporannya soal kekerasan yang dialaminya sesuai Pasal 5 UU KDRT yaitu kekerasan fisik, psikis, dan penelantaran rumah tangga. Hanya kekerasan seksual yang tidak dia laporkan karena memang tidak ada bukti untuk mengarah pada kasus itu.

Saat di kepolisian, laporan yang diproses hanyalah penelantaran rumah tangga. Alasannya, karena hanya itu laporan yang bisa dibuktikan secara akurat dengan biaya yang sedikit. Sebagai praktisi hukum, aku memahami soal itu. Bagaimana KDRT fisik bisa dibuktikan tanpa adanya visum, luka berat ataupun cacat anggota tubuh sedangkan pelapor, hanya melampirkan bukti foto yang kurang jelas. Saat laporan dilakukan pun, bukti kekerasan sudah tidak ada bekasnya.

Paling susah memang mengkaji beban psikis. Menurut Pasal 7 UU KDRT menyebutkan bahwa ketakutan, KDRT psikis ini membuat hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Tentu untuk membuktikannya harus ada diagnosa dari yang ahli. Kepolisian punya alasan kusus untuk melakukan pemeriksaan ini. Dan kalau korban masih mampu bekerja dan menlakan kehidupan sehari-hari, ketentuan hukumannya pelaku hanya dipidana maksimal empat bulan.

Penalantaran rumah tangga, akhirnya bisa diproses karena adanya bukti print out buku rekening tidak ada transferan dari pihak suami selama hampir satu tahun. Apakah hukuman pidananya memuaskan? Pihak kepolisian pun menjelaskan bahwa tindakan pelaku diancam pidana maksimal tiga tahun atau denda paling banyak limabelas juta rupiah. Kalau itu hukuman maksimal apa yang mau diperjuangkan? Pernikahan juga sudah diambang perceraian.

 

Ketika Hukum Tidak Mampu Bicara

Hati-hati dengan hati perempuan. Jiwanya saja terbentuk dari tulang rawan, konon katanya. Lembut jika dibelai penuh kasih sayang. Sadis jika hati sudah teriris. Mawar bersi keras agar suaminya dihukum penjara, bahkan sampai dipecat dari pekerjaannya. “Segala upaya akan saya tempuh,” serunya. Soal perceraian, dia tidak mau ambil pusing. Kesempatan memeras nafkah terakhir, bisa dia mohonkan karena suaminya yang mengajukan talak.

Aku rasa, hukum telah mengupayakan keadilan. Tapi bagi Mawar, tidak. Hukum tidak adil di matanya. Sakit hatinya membuncam. Dendamnya tak bisa terbalaskan. Polisi melihat beban kasus yang tidak seberapa siknifikan, tapi masih bisa dicari celahnya untuk kebaikan korban. Perdamaian ditawarkan. Dengan syarat, pelaku memberikan sejumlah uang ganti rugi atas tindakannya yang menyakitkan. Tidak ada luka berat yang mampu diperkarakan dalam kasus Mawar. Sejauh hukum diperjuangkan, ujung-ujungnya pelaku pasti dijerat hukuman tiga bulan penjara. Tiga bulan? Apakah cukup untuk memberikan efek jera? Apalagi, cerai sudah dilayangkan. Tak ada lagi hidup bersama di hari mendatang. Bukankah itu sudah lebih melegakan? Tapi, sudut pandang perempuan yang merasa tersakiti itu beda. Mari dengarkan!

Sebenarnya yang paling membuatnya sakit hati adalah, perzinaan yang dilakukan suaminya dengan selingkuhannya. Sayang, itu tidak bisa dibuktikan secara akurat. Mawar hanya menunjukkan screen shoot WA tentang percakapan suaminya dan selingkuhannya di ponsel suaminya. Padahal, untuk kasus ini pembuktiannya hanya bisa dengan visum yang dilakukan saat itu juga setelah diketahui laki-laki dan perempuan bukan pasangan suami isteri berbuat mesum. Hatinya remuk. Tidak hanya sakit karena kelaukan suami, tapi juga sakit karena prosedur hukum yang tidak dia pahami.

 

Pencegahan Jauh Lebih Baik

Mawar adalah salah satu perempuan yang berani bersuara dalam kekerasan. Ada banyak Mawar-mawar lain yang mengalami kekerasan jauh lebih sadis tapi dia bungkam. Mengadukan kekerasan, takut dengan ancaman dari pelaku yang bisa jadi membahayakan nyawanya. Parahnya lagi, belum ada undang-undnag yang secara kusus mampu melindungi perempuan korban kekerasan. UU KDRT, tentu saja tidak mempu menjangkau semua perempuan. Hanya perempuan dalam lingkup rumah tangga saja yang dilindungi di dalamnya.

Upaya dari berbagai pihak untuk mendesak UU Penghapusan Kekerasan Seksual, terus dilakukan oleh aktivis-aktivis sesama perempuan. Termasuk Komisi Perlindungan Perempuan. Perempuan dan anak dianggap kelompok paling rentan mendapatkan dampak kekerasan berbasis gender baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat secara luas.

Menurut data dari Komnas Perempuan sepanjang tahun 2011 hingga 2019 tercatat 46.698 kasus kekerasan seksual yang terjadi di ranah personal maupun publik. Angkayanya mencapai 9039 kasus untuk pemerkosaan, pelecehan seksual mencapai 2861, dan cyber yang bernuansa seksual 91 kasus.

Tidak kalah mengerikan juga kasus kekerasan berbasis gender dengan korban anak. Yayasan Pulih mencatat, tahun 2020 ini diketahui prostitusi anak berdiri di Kalibata dan Kelapa Gading Jakarta. Tahun 2019 diketahui seorang anak 9 tahun diperkosa Ayah tirinya berulang kali di Jakarta.

Tentu saja, korban tidak hanya mengalami sakit fisik namun juga psikis dan beban mental yang ditanggung seumur hidupnya. Oleh karenanya, pencegahan menjadi solusi yang paling tepat untuk menanggulangi kekerasan berbasis gender ini.

Adapun hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah kekerasan berbasis gender adalah sebagai berikut ini :

 

Memehami dengan Benar Kekerasan Berbasis Gender

Tentu saja upaya pencegahan hanya bisa dilakukan jika kita paham apa itu kekerasan berbasis gender. Perlu diperhatikan, bawasannya gender itu berbeda dengan jenis kelamin. Menurut World Health Organization (WHO), gender adalah sifat perempuan dan laki-laki, seperti norma, peran, dan hubungan antara kelompok pria dan wanita, yang dikonstruksi secara sosial. Sedangkan jenis kelamin ditujukan untuk mengidentifikasi secara bilogis yaitu seseorang dikatakan perempuan, jika memiliki vagina dengan 46 kromosom XX. Sedangkan pria memiliki organ reproduksi berupa penis dengan 46 kromosom XY.

Secara biologis ciri-ciri perempuan adalah memiliki vagina, manjalani menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Tapi dengan ciri-ciri biologis tersebut, bukan berarti perempuan tidak punya daya. Perempuan punya banyak potensi untuk berberan membangun negeri. Maka jelas ya tidak ada hubungannya gender dengan jenis kelamin. Gender mengarah pada paradigma laki-laki dan perempuan dalam lingkungan masyarakat. Tentu saja lingkungan masyarakat satu denga lainnya berbeda. Gender menuntut nilai-nilai yang diahami dan diyakini secara turun temurun dalam masyarakat. Bisa jadi itu benar, bisa jadi juga salah. Dan pemahaman yang salah, tentu saja berpotensi menimbulkan kekerasan berbasis gender yang mengerikan.

Komisioner Komisi Nasional Perlindungan Perempuan, Maria Ulfa menyebutkan akar permasalahan kekerasan berbasis gender dengan korban yang paling rentan adalah perempuan disebabkan karena ketimpangan gender yaitu perempuan dianggap rendah dan pemahaman keyakinan yang bias gender. Tentu saja, pemahaman yang seperti ini perlahan harus dibenahi. Terlebih pemahaman tersebut juga mengakar di lingkungan keluarga selain lingkungan kerja dan masyarakat yang lebih luas lagi.

 

Bekali Anak Kekuatan Untuk Lawan Kekerasan Sejak Dini

Anak juga rentan menjadi korban kekerasan berbasis gender. Tidak hanya soal ketimpangan gender, kekerasan pada anak juga dipicu oleh kurangnya penghargaan atas otoritas tubuh anak. Anak dalam lingkungan kita dianggap hak milik yang menimbulkan sikap orang tua untuk bebas memberintah dan memberikan isntruksi pada anak tanpa mendengarkan apa yang dia mau dan dia rasakan. Ini menjadi rawan karena anak dibiarkan untuk menurut bahkan untuk melakukan hal-hal seronoh yang mungkin itu membuatnya tidak nyaman.

Seorang influencer sekaligus Ayah yang cukup inspiratif di dunia parenting Indra Brasco dalam sesi webinar 15 yang diselenggarakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan berjudul Anti Kekeraan Berbasis Gender, mengatakan komunikasi dua arah antara orang tua dan anak sangat penting untuk mencegah kekerasan berbasis gender pada anak. Tidak ada salahnya, seorang Ayah meluangkan waktu untuk berdirkusi dengan anaknya soal apapun termasuk soal sex.

Indra juga menceritakan bagaimana dirinya sebagai Ayah melakukan hal kecil seperti meminta maaf atau permisi saat membuka baju anaknya. Tujuannya, untuk mengajarkan anak tentang otoritas tubuhnya. Bagaimana anak akan menghargai tubuhnya dimulai dengan cara bagaimana orang tua menghargai tubuh anaknya sendiri. Selain itu, Bapak empat anak ini juga memberi tahu kepada anak-anaknya siapa saja yang boleh membuka bajunya. Seperti Ayah dan Ibunya, ataupun dokter yang tentu saja saat didampingi orang tua. Menolak paksaan dari orang lain dan menceritakan kejadian saat dipaksa itu juga menjadi anjuran penting dari Indra untuk memberikan bekal pada anak-anaknya. Karena memang tidak setiap saat orang tua mendampingi anak dimanapun berada. Sehingga, bekal ketika mereka berada di luar jangkauan orang tua harus diperhatikan.

Beda ceritanya, jika dari pihak orang tua sudah bermasalah. Seperti kasus-kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh Ayah kepada anak kandungnya sendiri. Jika orang tua tidak mampu melindungi anaknya, maka sekolah dan seluruh elemen masyarakat punya peran penting untuk memberikan merangkul anak-anak yang rentan menjadi korban kekerasan. Caranya, dengan kepedulian dan hati yang kita miliki. Rangkul mereka, berikan ruang untuk bercerita.

 

Berikan Ruang Ramah Gender Untuk Saling Memberdayakan

Beberapa hari yang lalu aku menemukan vidio di salah satu akun instagram yang peduli dengan isu gender. Vidio tersebut menggambarkan bagaimana kehidupan permepuan di sekitar perkebunan sawit. Mulai dari kekerasan baik fisik sampai seksual yang dialami, hingga ekonomi. Perempuan bekerja tanpa upah karena dihitung sebagai hasil suami. Ada dari mereka yang dipaksa untuk melayani nafsu bejat lelaki sampai diperkosa ramai-ramai secara bergantian.

Betapa mirisnya hati ini menyimak vidio berdurasi 10 menitan itu. Jika keluarga tidak mampu membuat mereka berdaya, lingkungan sekitar melumpuhkannya, tentu hanya bisa berharap pada kebijakan negara. Ruang ramah gender untuk berkarya dan berdaya menurutku hanya bisa terwujud jika piranti peraturan perundang-undangan tegak terwujud. UU Penghapusan Kekerasan Seksual harus segera disahkan. Kejelasan tentang upah dan hak-hak pekerja perempuan juga harus diatur dengan jelas.

Jika cara di atas terlalu muluk untuk dilakukan, setiap orang bisa memulai dari keluarga masing-masing. Keluarga satu bisa membantu keluarga lain dengan menciptakan perkumpulan dengan kegiatan positif. Komunitas-komunitas berbasis perempuan harus didukung penuh karena hanya mereka yang bisa menguatkan sesama perempuan.

 

Dengarkan, Pahami, dan Ulurkan Tangan

Mencegah memang lebih baik. Tapi kita tidak bisa mengelak jika kekerasan berbasis gender itu ada di lingkungan kita. Apa yang bisa kita lakukan jika kita manemuinya?

  • Mendegarkan cerita korban dengan penuh kepedulian karena pada dasarnya, mereka para korban itu sedang kalut dan merasa sendirian.
  • Selama mendengarkan, jangan menghakimi tentang salah benar. Berikan mereka ruang untuk sekedar melegakan hatinya yang terkaram.
  • Berikan perlindungan dengan cara menghubungi kerabat terdekat atau memfasilitasi tempat yang aman untuknya singgah.
  • Mendampingi korban untuk membuat laporan kepolisian setempat bagian Perlindungan Perempuan dan Anak.

Semoga upaya pencegahan berbasis gender ini bisa dijalankan lebih baik sehingga tidak ada lagi korban yang mengalami penderitaan baik secara fisik maupun mental dimanapun lingkungannya. Baik di lingkungan keluarga, institusi pendidikan, perkantoran dan lingkungan masyarakat lainnya harus kita jaga bersama untuk cegah kekerasan berbasis gender. Tidak peduli kekerasan kecil ataupun sampai menimbulkan luka berat hingga cacat tetap harus kita dampingi dan temani mereka. Hapus stikma, bantu mereka hidup sewajarnya seperti kita. Lawan kekerasan berbasis gender, dimanapun tempatnya!

 

Simak Webinar Kemdnikbud Selanjutnya Untuk Menjadi Pribadi yang Lebih Cerdas dan Berkarakter

Sebagai catatan, tulisan ini selain berdasarkan pengamatanku di lingkungan sekitar dan pengalaman mendampingi klien yang aku alami juga hasil dari menyimak webinar diselenggarakan oleh Program Cerdas Berkarakter Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tentu saja, selain webinar ini ada webinar lainnya yang bisa disimak di chanel youtube Cerdas Berkarakter. Pastikan tidak ketinggalan webinar berikutnya yang sangat bermanfaat untuk pengembangan diri dan keluarga.

 

Aku ingin bercerita tentang hukum yang bisa kita rasakan di sekitar kita dan hal-hal yang membuat hidup kita jadi lebih bermakna dan berwarna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *