Parenthood

Belajar dari Anak 18 Bulan Tentang Bagaimana Mengamati Sekitar

Anakku kini sudah 18 bulan. Sebentar lagi dia menginjak usia dua tahun. Tentu saja, usia ini usia lucu-lucunya dan aktif-aktifnya. Seneng banget, melihat perkembangannya yang begitu pesat. Kini dia sudah bisa berlari, naik turun tangga dengan hati-hati, dan mengungkapkan kemauannya lewat beberapa kosa kata yang dia miliki dan gerakan tubuh yang dia pahami.

Aku juga seneng, Adna itu nggak rewel kalau diajak jalan. Ketahuannya sebenarnya pas umur 10 bulan. Waktu itu kami mengajaknya ke Jakarta untuk menghadiri wisuda pamannya. Lebih tepatnya adikku. Seharian kami muter Jakarta, menembus kerumumnan Mahasiswa yang berwisuda, lelah ya pasti iya. Kami hanya menginap semalam di sebuah hotel. Dan pagi, sekali kami sudah kembali ke Madiun dengan naik kereta. Adna, sama sekali tidak rewel.

Sejak itu, kami bertekat untuk traveling bersama setelah ini. Maklum, sebelum itu Adna jarang sekali aku ajak keluar. Bahkan yang deket-deket aja. Waktu aku ajak ke Jakarta itu masih bulan Februari 2020. Siapa yang sangka Maret 2020 corona masuk Indonesia. Dan PSBB terjadi dimana-mana. Batal deh, rencana kita untuk travelling bersama.

Tapi, kami tetap berbergian untuk bekerja. Beberapa kali aku sidang di luar kota. Akhir-akhir ini, kegiatan juga sudah banyak yang dilakukan secara offline di Madiun. Dan, tidak takut aku ajak Adna selagi acaranya sepi. Seriusan dia nggak rewel sama sekali. Dua jam nungguin aku latihan senam bareng  Ibu-ibu Fatayat untuk mengikuti lomba senam Fatayat antar kecamatan se-Kabupaten Madiun yang dia lakukan adalah mengamati gerakan senam Ibu-ibu disini.

 

Proses Mengamati Proses Paling Dasar

Sebelum bertanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengkomunikasikan, mengamati adalah dasar dari rangkaian proses berpikir anak yang akan terus berkembang. Menurut artikel yang aku baca di laman online, anak usia 1-2 tahun menghabiskan waktu untuk mengamati tindakan orang dewasa.Di usia ini, perkembangan kognitif anak cenderung :

  • Memahami dan merespons kata-kata.
  • Mengingat ciri sebuah benda dan mengidentifikasi persamaannya dengan benda lain yang mirip.
  • Mengerti kapan harus menggunakan ‘aku’ atau ‘kamu’.
  • Meniru tindakan dan ucapan orang dewasa.
  • Mempelajari lingkungan sekitar dengan menjelajahinya.

Kalau di komunitas Rangkul Keluarga Kita, percaya bahwa setiap tumbuh kembang anak apabila orang tua meresponnya dnegan tepat akan menumbuhkan anak yang lebih bisa menyesuaikan diri dan membentuk disiplin anak yang positif. Jadi, kalau usia ini penting banget orang tua memperhatikan tindakan yang dilakukan jangan sampai melakukan hal-hal yang sebaiknya tidak ditiru anak.

 

Ketika Aku Latihan Senam

Sejujurnya, pada latihan kali ini aku itu sulit menghafal gerakan. Ya, gimana mau gampang mau latihan sendiri aja keinget berkas, dapur, dan lain-lain. Ya jelas kurnag bisa fokus. Tapi karena udah dipilh ya memang harus latihan dengan giat. Alasan dasarnya ya karena ini tim. Nggak enak dong sama Ibu-ibu lain yang latihannya lebih maksimal dan semangatnya lebih optimal.

Anakku, aku ajaklah pada satu sesi latihan senam ini. Kebetulan Ibu-ibu yang biasa bawa anak perempuan nggak hadir. Akhirnya, anakku bermain sendiri. Kebetulan latihannya di sebuah Paud jadi banyak sekali mainan bertebaran disana. Bukannya bermain, yang dilakukan anakku adalah berdiri di antara Ibu-ibu senam dan mengamati kelima Ibu-ibu itu dengan seksama. Tidak ada gerakan dan suara dari anakku. Matanya begitu fokus. Dan lehernya sesekali menoleh untuk menyaksikan Ibu yang disamping kanan kirinya.

 

Anakku Bisa Meniru Gaya Senam

Baru aku ajak satu kali, keesokan harinya waktu aku latihan sendiri di rumah Adna bisa meniru beberapa gerakan dengan lucunya. Memang kurang tepat karena kemampuan koordinasi tubuhnya. Tapi hampir persis gerakannya. “Keren!” kataku lirih. Rupanya yang dilakukan anakku kemarin tidak hanya diam beridri mematung. Tapi mengamati dengan seksama dan memasukkan ke otaknya dengan sangat cermat. “Oh, jadi begini ya proses anak setelah melakukan pengamatan dengan diam tanpa komentar, berkata ataupun bertindak.”

 

Belajar Pada Anak 18 Bulan

Sering kali, dalam hidup kita cenderung buru-buru. Kaya aku nih misalnya, belum juga melakukan pengamatan tiap gerakan senam udah berusaha menirukan gaya senam yang ditampilkan vidio aja. Mungkin sebagian orang bisa. Tapi kita harus akui kalau kecenderungan otak manusia terbatas dan berbeda. Tidak jarang juga, kita sebagai orang dewasa cenderung mengambil kesimpulan dengan cepat tanpa melakukan observasi kejadian dengan tepat. Kita orang dewasa juga sering kali buru-buru komentar sebelum apa yang dilihat dan didengar itu dicerna sampai akhir.

Jadi, yang dewasa sebenarnya siapa? Aku seperti ditampar oleh anakku sendiri. Seolah dia berkata, “Gini loh buk… cara belajar yang tepat. Mengamati dulu, baru mencoba.” Terus aku hanya bisa angguk-angguk kepala. Benar juga sih, kalau udah buru-buru mencoba yang ada gerakan makin berantakan. Aku kembali belajar dari cara anakku belajar. Dan aku tidak sabar mendapat pelajaran-pelajaran darinya di hari kemudian.

Aku ingin bercerita tentang hukum yang bisa kita rasakan di sekitar kita dan hal-hal yang membuat hidup kita jadi lebih bermakna dan berwarna

One Comment

  • Mayuf

    Memang bener kadang aku juga suka liat tingkah lucu anak adikku dan adikku yang masih kecil, kadang juga di banding”in sendiri owhh mungkin aku pas kecil juga dulu kaya gtu gtu lah wkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *