Law

Bagaimana Status Anak di Luar Pernikahan Ayah Ibunya?

Si Bunga Hamil? Terus Bapaknya siapa? Dalam dunia hukum, pertanyaan Bapaknya siapa bukan sekedar pertanyaan biasa. Bukan bermaksud mengejek, tapi ini semua berkaitan dengan status anak tersebut. Siapa walinya? Apalagi kalau anak yang dikandung Ibu tersebut perempuan. Tentu butuh kehadiran Bapaknya saat menikah kelak jikalau bapaknya benar-benar ada. Tidak hanya itu, soal warisan juga bisa menjadi polemik dalam pertanyaan siapa Bapaknya.

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra:32).

 

Status Anak di Luar Kawin Menurut Hukum Indonesia

Meskipun ada pengakuan hukum terkait status anak di luar kawin, tetap saja anak tersebut bisa dikatakan lahir dari hubungan zina. Saya sendiri, sebagai seorang muslim pun sepakat kalau zina itu dilarang. Tapi bagaimana kehidupan anak yang tak berdosa kelak setelah lahir di dunia? Dalam hukum Indonesia, dikenal dengan dua istilah anak yang dilahirkan seorang perempuan yaitu anak sah dan anak luar kawin.

Anak sah adalah  anak yang dilahirkan setelah orang tuanya menjalani perkawinan yang sah. Perkawinan dinyatakan sah ketika dilaksanakan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya. Setiap perkawinan dicatat menurut peraturan yang berlaku. Lebih lengkapnya sudah dijelaskan pada UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Sedangkan anak luar kawin, yaitu anak yang dibenihkan dan dilahirkan di luar perkawinan. Anak di luar kawin tersebut, memiliki hubungan perdata dengan Ibunya saja. Dengan Ayahnya tidak. Memang ada anak yang dibenihkan di luar perkawinan dan dilahirkan dalam perkawinan. Hukum Indonesia, menganggap anak tersebut anak sah. Kecuali, jika hukum agama mengatakan lain menganggap menganggap anak tersebut tetap anak luar kawin.

Anak luar kawin, tidak bisa mendapat warisan dari Ayah kandungnya. Kecuali jika Ayah kandungnya tersebut memberikan wasiat. Tentu nomilanya tidak bisa lebih dari yang berhak dimiliki anak sah.

Celah Hukum Anak Luar Kawin

Anak luar kawin, memang tidak hanya terjadi karena kecerobohan muda-mudi ataupun pelaku zina yang sama-sama sengaja melakukan hubungan intim di luar pernikahan atas dasar cinta. Anak luar kawin tersebut, bisa saja lahir karena pemerkosaan yang menimpa seorang perampuan. Kita perlu empati dengan hal itu. Jikapun ada perempuan sekitar kita yang hamil karena adanya pemerkosaan dan dipaksa melakukan hubungan intim tanpa adanya pengakuan tentang status anak dari Ayah kandungnya, kita perlu tepuk pundak mereka.

Kabar gembiranya, sejak 2010 lalu, anak luar kawin bisa dianggap memiliki hubungan perdata dengan Ayahnya berkat Putusan MK No.46/PUU-VIII/2010. Kala itu, seorang artis Aisyah Mochtar alias Machica binti H Mochtar Ibrahim mengajukan uji materi terhadap salah satu pasal yang ada pada UU No. 1 Tahun 1974. Akhirnya, dalam putusan itu menyebutkan pada intinya menyatakan hubungan perdata anak luar kawin bukan saja terhadap ibunya dan keluarga ibunya, tapi juga laki-laki yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah sebagai Ayahnya.

Jadi, anak luar kawin bisa saja memiliki hubungan perdata dengan Ayahnya apabila bisa dibuktikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi medis yang diakui sebagai alat bukti yang sah menurut hukum.

 

Aku ingin bercerita tentang hukum yang bisa kita rasakan di sekitar kita dan hal-hal yang membuat hidup kita jadi lebih bermakna dan berwarna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *