Pengacara Perempuan Madiun Menangani KDRT di Ponorogo
Hukum Keluarga

Pengalaman Tangani KDRT di Ponorogo : Alat Bukti Harus Kuat

Komnas Perempuan, menyebutkan bahwa angka KDRT atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga meningkat selama pandemi. Terdapat 319 kasus kekerasan yang telah dilaporkan selama pandemi ini. Dua pertiga dari angka tersebut merupakan kasus KDRT. Laporan selanjutnya, data dari Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) menyebutkan terdapat 110 kasus KDRT yang telah dilaporkan sejak 16 Maret sampai 20 Juni 2020. Ini bukan angka yang sedikit karena menurut LBH APIK kenaikanya menjadi 3 kali dari sebelumnya. Pada masa pandemi ini, kebetulan aku mendapatkan kesempatan untuk mendampingi masalah KDRT di Ponorogo. Akan aku ceritakan di postingan ini.

 

Faktor Penyebab KDRT

Masalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga memang sudah lama menjadi permasalahan yang serius. Mayoritas korbannya memang perempuan. Meskipun tidak menutup kemungkinan laki-laki juga bisa berpotensi menjadi korbannya. Penyebab adanya kekerasan dalam rumah tangga bisa bermacam-macam. Ada yang karena cemburu, ada yang memang karena tidak bisa mengendalikan emosi, atau bisa juga karena luapan atas permasalahan yang menumpuk seperti ekonomi. Apalagi pada kondisi pandemi saat ini. Dimana banyak karyawan yang gajinya dipotong, anak dan suami beraktifitas di rumah hampir 24 jam sehingga berpotensi menimbulkan gesekan yang tak henti. Bisa dikatakan faktor KDRT antara lain sebagai berikut:

Faktor Pemahaman

Kurangnya pemahaman ilmu pranikah bisa juga menjadi faktor penyebab KDRT. Ilmu pernikahan memang tidak diajarkan di sekolah namun kenyataannya menikah butuh ilmu misalnya ilmu komunikasi, manajemen emosi, dan lain sebagainya. Jika tidak dipahami, salah paham bisa berujung KDRT.

Faktor Pasangan

Pasangan seelingkuh berpotensi membuat ketidak nyamanan dalam rumah tangga yang berujung pada KDRT. Begitu pula kalau perempuan dengan suami menggangur dan mabuk-mabukan. Maka potensi KDRT lebih besar.

Faktor Ekonomi

Pengeluaran semakin banyak sedangkan pemasukan masih begitu-begitu saja.  Ini juga akan memicu terjadinya KDRT utamanya jenis KDRT Financial.

 

Baca juga : Kekerasan Berbasis Gender

 

 

Macam-Macam KDRT

Ada 4 macam KDRT berdasarkan UU No 23 tahun 2004 yang wajib kita ketahui untuk jaga-jaga dan waspada potensi KDRT di sekitar kita. Macam-Macam KDRT antara lain :

Kekerasan Fisik

Perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.

Kekerasan Psikis

Perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang.

Kekerasan Seksual

Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut dan pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.

Penelantaran Rumah Tangga

Tidak memenuhi kewajiban kepada pasangan dalam memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada pasangan atau dalam poin selanjutnya dijelaskan penelantaran rumah tangga ini merupakan sikap yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut.

 

Pengalaman Mendampingi Kasus KDRT di Ponorogo

Awal tahun lalu, aku mendapat pengalaman untuk mendampingi korban Kekerasan di Ponorogo. Sebut saja nama klienku ini adalah Delima (nama samaran). Karena aku pegang si korbannya, maka yang bisa aku lakukan terkait kasus pidananya adalah pendampingan dan memberikan pemahaman akan proses hukum yang akan dilaluinya bersama kepolisian, kejaksaan bahkan hingga ke pengadilan.

Rupanya, Delima sudah membuat laporan terlebih dahulu sebelum datang ke tempatku. Jadi aku tinggal melanjutkan saja untuk proses selanjutnya. Kepadaku, Delima menceritakan kekerasan fisik yang dialaminya hingga mengakibatkan luka lebam biru bagian lengan. Sayangnya tidak ada bukti visum hanya ada foto yang sulit diidetifikasi akurasinya. Sedangkan saat laporan itu, luka lebamnya sudah hilang.

Delima juga melaporkan tindakan kekerasan psikis yang dialaminya dengan membawa bukti dari psikolog rumah sakit yang mengatakan bahwa Delima ini mengalami psiko traumatik. Tentu, Delima langsung menyebutkan suaminya yang membuat dirinya begitu.

Pada laporan terpisah lagi, Delima juga melaporkan penelantaran rumah tangga yang dilakukan oleh suaminya. Dengan tuduhan suaminya tidak pernah memberi nafkah selama lebih dari 2 tahun. Dia membawa bukti buku tabungan yang  tidak ada transferan sama sekali dari suaminya.

Beberapa Laporan Ditolak

Dari tiga laporan Delima tadi, hanya satu yang diterima oleh kepolisian yaitu penelantaran rumah tangga. Kenapa? Tentu karena alat bukti pada KDRT fisik dan psikis tidak kuat. Yang fisik jelas ya, harus ada visum dari dokter meskipun lukanya kecil sampai tidak menimbulkan bekas apapun setelah beberapa bulan.

KDRT psikis juga ditolak karena buktinya kurang kuat. Ha, bukti dari psikolog nggak cukup? Iya, korban harus menjalankan standar pemeriksaan psikis dari kepolisian yang dilakukan oleh rumah sakit kepolisian kalau di Ponorogo ikut yang di Polda Jawa Timur lokasinya di Surabaya. Nama rumah sakitnya, Rumah Sakit Bhayangkara. Jadi, Delima harus pergi ke rumah sakit tersebut untuk melakukan pmeriksaan. Tentu didampingi polisi dari Ponorogo dengan biaya ditanggung Delima.

Sedangkan penelantaran rumah tangga bisa diproses, karena selain bukti buku tabungan, kepolisian juga bisa meminjam atau mengcopy laporan transaksi dari perbankan.

Solusi yang Ditawarkan

Sesuai dengan Pasal 49 UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga menyebutkan bahwa :

Dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah), setiap orang yang :

        1. menelantarkan orang lain dalam lingkup rumah tangganya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1);
        2. menelantarkan orang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2).

Namanya juga sudah dibawa ke kepolisian. Mikirnya bakal diproses dipidana sampai dipenjara, dong! Ternyata tidak. Polisi menawarkan alternatif penyelesaian sengketa yaitu mediasi. Karena kebetulan bersamaan dengan laporannya ini, suami Delima mengajukan permohonan cerai talak di Pengadilan Agama Ponorogo. Akhirnya polisi memberikan usul mediasi dengan penawaran jika suami memberikan sejumlah uang pada isteri sesuai nafkah taerhutang yang ditanggungnya, Delima akan mencabut laporannya dan proses hukum kasus KDRT Delima tidak akan dilanjut.

Suami Delima setuju memberikan sejumlah uang. Setuju pula dengan permintaan nafkah iddah dan mut’ah untuk isterinya pasca dicerai. Nominalnya kalau aku bilang sih lumayan banyak. Bisa beli mobil baru, lah. Tapi ternyata, Delima menolak. Perasaan sakit hati yang terpendam tak bisa dia bendung. Baginya, suaminya itu harus merasakan balasan akibat dari apa yang telah dia lakukan pada Dlima. Satu-satunya yang dia inginkan adalah suaminya dipenjara. Titik. Kisah ini belum tamat. Tapi akhirnya aku aku switch dengan pengacara lain sehingga tidak fokus lagi pada kasus ini.

Polisi hanya mengingatkan Pasal 49 UU No 23 tahun 2004 tentang PKDRT, sanksi untuk penelantaran rumah tangga paling lama 3 tahun. Ya, paling lama tiga tahun. Paling lama, loh ya…. Jadi, belum tentu juga sampai 3 tahun. Jaksa yang akan menentukan dakwaannya berapa tahun nantinya. Daripada sampai kejaksaan hukuman jadi nggak maksimal, cuma 3 bulan, maka polisi menawarkan mediasi itu tadi. Toh, akhirnya Delimanya juga dapat duit. Ya, mau gimana lagi kalau sudah sakit hati.

Alat Bukti Harus Kuat

Pembuktian terkait KDRT tidak bisa main-main. Akurasi dan kecukupan alat bukti harus diperhatiakan. Penegak hukum memeriksa perkara, berdasarkan alat bukti yang ada. Bukan berdasar perasaan sakit hati dan dendam semata.

Lifestyle Blogger Indonesia yang tinggal di Madiun Jawa Timur.

12 Comments

  • Haryadi Yansyah | Omnduut

    Ikut prihatin dengan apa yang menimpa Delima. Aku kaget juga saat laporan pertama ditolak. Ternyata, harus diperiksa ulang ke RS yang ditunjuk. Dan, kebayang prosesnya. Bisa jadi kondisi fisik dan mental sudah lelah, eh harus tes ulang kembali. Berharap nanti, hasil pemeriksaan dokter lain pun dapat digunakan sebagai bukti, jadi nggak harus dites lagi.

    Soal KDRT ini memang pelik. Beberapa keluarga dekat mengalami, tapi gak cukup punya keberanian untuk “melawan”. Sebagian dari mereka menahan karena terlalu ngeri kelak hidup seorang diri, tanpa adanya jalan keluar secara finansial belum lagi paradigma masyarakat terhadap janda masih bikin pening kepala.

    Semoga kasus-kasus KDRT di Indonesia semakin menurun. Dan, well, ya, KDRT juga bisa terjadi pada suami yang dilakukan oleh istri.

  • Mechta

    Karena proses hukum memangmembutuhkan bukti yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan ya.. Terima kasih sharingnya Mba.. Jadi tahu kalau2 ada yang menanyakan hal ini..

  • Zikri Fadhilah

    Cukup ribet juga mengurus perkara-perkara seperti ini. Baik dari sisi administratif maupun sisi hukumnya. Ortuku pisahnya “mulus” saja butuh waktu setahun untuk beneran pisah secara administratif. Semoga mba Delima dikuatkan dan tetap semangat.

  • Brillie

    Proses yang lama, tidak praktis dan hukuman yang sebentar membuat banyak korban KDRT yang akhirnya menyerah ya mbak? Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan korban, waktu dan tenaga. Jika saja hukuman yang diterima oleh pelaku KDRT setimpal, ya mungkin korbannya akan memperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Tapi salut sama mbak Delima karena masih memperjuangkan sampai akhir. Semoga pelaku mendapat hukuman yang setimpal.

    Sebenarnya yang ditakutkan dari korban KDRT ini adalah kelanjutan setelah si pelaku dipenjara. Takutnya setelah keluar dari penjara mereka akan menaruh dendam dan membalas. Ih amit-amit… Iya kalau membalas secara langsung, yang ditakutkan kalau mereka balas dendam menggunakan bantuan dukun.

  • Fajarwalker.com

    Ternyata selain tingkat kehamilan yang tinggi, sebanding juga jumlah KDRT yang meninggi pula. Setuju banget poin faktor penyebab KDRT salah satunya adalah kurangnya Ilmu pernikahan. Soalnya aku baru banget ngurus-ngurus syarat dapet surat layak kawin di puskesmas jakarta dan itu ribet sekali. Tapi dari situ aku dapet pembekalan dan belajar banyak, bahwa nikah itu ga sembarangan. Harus siap bukan cuma dari segi keuangan, tapi juga sikap dan mental.

    Oya, bu delima sayang banget kenapa ga diambil uangnya aja ya. Kalo liat tuntutan maksimal cuma 3 tahun, kayaknya di realisasinya penjara sekian bulan juga udah maksimal banget ya.

    Fajarwalker.com

  • helena magdalena

    Aku pernah denger dari temenku yang praktisi di bidang hukum, sedapat mungkin dimediasi gitu ya Mbak sebelum semakin maju kasusnya? Tapi kalau casenya sdh kekerasan pasti ada pola berulang gak sih Mbak? jadi emang lebih baik kitanya ya tegas thd pelaku? gmn mnrt mba?

  • Diah Alsa

    buktinya harus benar-benar kuat ya Mbak dan bisa dipertanggungjawabkan.
    kalau urusan hati maah ya, duuh.
    moga Delima nantinya bisa hidup tenang dan bahagia, takutnya malah nanti mantan suaminya itu jadi aneh-aneh dan mengganggu hidupnya karena gak terima dilaporin.

  • Bundabiya.com

    iya yaah kalau sudah masuk ke peradilan, memang kudu bawa alat bukti yang kuat biar menang. tapi sayangnya kadang gak semua perempuan itu tahu apa aja yang bisa disebut alat bukti, kadang ada kan kalau udah mengalami KDRT boro2 mau mengamankan alat bukti, motret diri, atau apapun lah.. ada yang udah trauma dan sakit hati banget.

  • antung apriana

    ternyata buktinya nggak bisa cuma foto ya, mbak tapi harus ada visum juga. mungkin salah satu alasan mbak Delima nggak mau diganti rugi uang karena ragu suaminya bakal membayar jadi mending dipenjara aja kali ya.

  • Rahmah

    KDRT tuh benar-benar bikin sakit juga sebenarnya
    Setidaknya sakit di hati dan pikiran jika tidak dibekali kontrol emosi
    Apalagi kalau harus ada bukti
    Huhuhu bagiku bentakan aja sudah bentuk KDRT

  • Lisa - limaura.com

    Masya allah ya mbak Jihan. Saya baca sampe deg-degan.
    Naudzubillahmindzalik, semoga dijauhkan sama laki-laki yang ringan tangan…
    Mbak Delima nya mantab banget, maunya si laki di penjara titik. Tapi ringan banget ya waktunya, hanya tiga tahun. Lha kalo setelah tiga tahun (mungkin kurang) terus si laki balik nyari mbak Delima gimana ya huhuhu. Simalakama jadinya..
    Tapi hfuallah syukur mbak Jihan switch pengacara.. Sukses terus buat mbak Jihan ^^

  • Eta Rahayu

    Terima kasih sudah berbagi pengalamannya Mbak. Bantu banget buat saya yang awal masalah pembuktian kasus KDRT, ternyata harus visum ya, foto saja kurang kuat. Padahal saat mengalami kekerasan, pasti sangat kalut nggak kepikiran untuk visum dll, yg bisa dilakukan awal ya foto dulu aja.
    Terlepas dari itu, semoga tingkat kdrt makin menurun, karena kok sedih banget dengernya. 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *