Hukum Ketenagakerjaan

Hukum dalam Keseharian : Tanpa Sadar Kamu Udah Lakukan Perbuatan Ini!

Assalamu Alaikum Sahabat Jihan. Kali ini, aku mau bahas seputar hukum dalam keseharian. Udah baca postinganku tentang tarif pengacara, kah? Kalau belum, klik disini aja ya. Jadi, postinganku yang itu banyak yang numpang doa di kolom komentar bilang, “Semoga aku tidak pernah terlibat perkara hukum nantinya.” Padahal, setiap hari mulai dari kita bangun tidur sampai tidur lagi ada berbagai perbuatan hukum yang kita lakukan, loh. Masak sih, masak sih, kok gitu, masak iya??? Oke, simak postinganku sampi akhir ya

 

Pengertian Perbuatan Hukum

Perbuatan hukum menurut R. Soeroso dalam bukunya Pengantar Ilmu Hukum (hal. 291), adalah setiap perbuatan manusia yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan hak dan kewajiban. Perbuatan manusia contohnya, mencuci piring, belanja ke pasar, pergi ke kantor, dan lain sebagainya. Kemudian, perbuatan tersebut dilakukan dengan sengaja alias ada unsur kehendaknya maka disini harus ada tanggung jawabnya. Seseorang yang bisa dibebani tanggung jawab, tentu saja orang yang sudah dewasa.

Itu yang aku contohkan masih pemahaman soal perbuatan. Belum ada hukumnya. Kalau ada perbuatan hukum contohnya, melakukan jual beli, melakukan sewa-menyewa. Disitu ada perbuatan hukum karena ada konsekuensi hak dan kewajiban yang melekat di dalamnya. Nah, perbuatan hukum sendiri hanya bisa dilakukan bagi orang yang sudah cakap hukum atau dewasa itu sendiri.

Kalau berdasarkan undang-undang perkawinan usia dewasa itu 19 tahun baik laki-laki maupun perempuan atau yang sudah menikah.  Bagaimana jika dibawah itu? Harus ada pengampu dari orang tuanya atau walinya jika orang tua tidak ada. Aku anggap sahabat Jihan yang membaca blogku ini sudah usia dewasa, ya. Jadi, sudah pasti bisa melakukan perbuatan hukum sehingga menimbulkan akibat hukum yaitu hak dan kewajibannya sesuai dengan hukum.

Paham ya? Kalau susah dicerna tulis di kolom komentar, saja ya.

 

Pengertian Akibat Hukum

Akibat hukum, Soeroso (hal. 295) mendefinisikan sebagai akibat suatu tindakan yang dilakukan untuk memperoleh suatu akibat yang dikehendaki oleh pelaku dan yang diatur oleh hukum. Tindakan ini dinamakan tindakan hukum. Jadi dengan kata lain, akibat hukum adalah akibat dari suatu tindakan hukum. Bingung lagi? Oke, aku sederhanakn pelan-pelan ya…

Jadi, misalkan teman-teman disini menumpahkan gelas yang berisi air. Akibatnya, air dari gelas jadi tumpah sehingga membuat lantai basah. Kurang lebih akibat hukum itu gambarannya seperti itu. Bedanya, kalau yang aku jelaskan tentang gelas tadi tidak diatur dalam suatu aturan hukum. Sedangkan, kalau akibat hukum itu di atur dalam suatu aturan hukum. Berarti harus buka undang-undang, dong biar tahu itu perbuatan hukum atau bukan?

Aku jelaskan yang paling sederhana aja, ya….

 

Sumber Hukum Nggak Cuma Undang-udang

Hukum alah undang-undang merupakan definisi hukum yang sangat sempit. Aku memahami prinsip ini saat kuliah semester 1 yang harus aku ulang di semester 2. Jadi, hafal banget karena pernah ngulang. Jadi, norma hukum itu pada dasarnya ada 4 yang kemudian dirujuk menjadi sumber hukum. Keempat norma tersebut antara lain :

 

Norma Kesusilaan

Norma ini, yang berperan adalah nurani. Misalnya, ketika aku sebagai ibu tiba-tiba marah sama anak padahal kesalahan yang dilakukan nggak seberapa. Misalnya tidak sengaja merusak mainan. Kemudian aku bilang, “Nak, itu kan mainan mahal kok kamu rusakin belinya susah pula!” Sesaat kemudian, aku sadar marah itu nggak penting. Karena toh, anak nggak sengaja. Tidak ngerti cara mainnya mungkin. Kalau dalam ilmu parenting, tentu kita harus observasi dulu tindakan anak ini tidak buru-buru marah. Ketika aku mulai sadar marahku itu salah, timbul perasaan tidak enak atau tidak nyaman yang akhirnya harus diobati dengan meminta maaf kepada anak karena sudah marah-marah.

Nah, perasaa seperti itu juga bisa dikatakan sumber hukum. Asalnya dari norma kesusilaan. Jadi ada unsur nuraninya gitu, loh. Aku sih yakin ya, sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan nurani yang baik. Hanya saja, kadang hawa nafsu yang bikin goyah (eh, aku nggak bakal ceramah). Menurutku emang gitu sih, sebenarnya nurani manusia itu pada baik-baik. Memang nurani ini harus terus dilatih supaya terasah dan selalu menuju pada kebaikan.

 

Perbuatan Hukum dalam Keseharian

Ini pakai rutinitasku aja ya. Misalnya, dari bangun pagi aku ibadah, olahraga, kemudian ada tukang sayur lewat aku belanja sayur dulu. Disinilah, aku mulai membuat kesepakatan pertamaku dengan pihak lain di hari itu.  Setelah terjadi saling tawar menawar, aku dan penjual sayur sepakat bahwa harga kangkung yang mau aku beli itu Rp 1.500 rupiah. Disinilah perbuatan hukum itu muncul.

Iya, cuma beli syaur doang itu sudha melakukan perbuatan hukum, loh. Udah muncul hak dan kewajiban. Kewajibanku sebagai pembeli membayar sejumlah uang sesuai harga yang telah disepakati, dan hakku mendapatkan sayur sesuai dengan nominal yang sudah disepakati. Begitu pula sebaliknya dengan penjual sayur. Satu sisi dia memiliki kewajiban untuk memberikan sayurnya padaku dan di sisi lain dia berhak mendapatkan sejumlah uang yang nilainya sudah disepakati.

Aku ulang beberapa kali kata disepakati ya… kata dasarnya adalah sepakat.

Sepakat, adalah salah satu syarat sah perjanjian sesuai dengan Pasal 1313 KUHPerdata. Selain kata sepakat, ada syarat lainnya yaitu pihak sudah dewasa atau cakap hukum, ada obyek yang diperjanjikan, dan obyek tersebut merupakan barang yang diperbolehkan menurut hukum. Jadi ya, perbuatanku membeli sayur di abang tukang sayur itu sudah masuk perbuatan hukum yaitu perbuatan melakukan perjanjian. Cek aja syarat sah perjanjian sudah terpenuhi semua, tuh.

Pertama, kata sepakat. Jelas ada aku dan abang sayur sepakat harga kankungnya Rp.1500. Kedua, aku sendiri juga udah nikah dan si atas 19 tahun. Sesuai UU Perkawinan, aku dikatakan udah dewasa atau udah cakap hukum. Ketiga, ada obyek yang diperjanjikan yaitu kangkung. Dan keempat, kankung merupakan obyek yang diperbolehkan seusai undang-undang. Kalau barang yang nggak diperbolehkan itu misalnya, kosmetik nggak ada label BPOM, narkoba, barang ilegal, dan lain sebagainya.

Jadi, Pemahaman Hukum dalam Keseharian Adalah…..

Nah, namanya perjanjian tuh ada loh dasar hukumnya seusai dengan undang-udang. Dalam transaksiku bersama abang tukang sayur ini, berlaku asas pacta sunt servanda, sesuai Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Artinya, perjanjian yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Jadi, perjanjiaku sama Abang Tukan Sayur ini, diakui sebagai hukum. Artinya, pagi-pagi aja aku udah berurusan dengan hukum.

Ya, meskipun perjanjiannya dibuat secara lisan tidak tertulis dan selesai saat itu juga kan ya. Iya, jadi selesainya ketika aku udah bayar lunas tuh kankung. Selesai sudah prosesi hukum yang aku jalani di pagi hari. Gimana, jelas enggak gambarannya? Beda lagi, sama transaksi-transaksinya yang nilainya ratusan juga bahkan sampai miliyaran, nuansa hukumnya terasa karena ada kontrak atau pernjajian tertulis yang menyertainya. Ya jelas, nominal segitu pasti ada kan cara-cara pembayaran yang disepakati, rincian barangnya seperti apa, tenggat waktu pembayarannya kapan, sampai diatur juga bila sampai jatuh tempo nggak sanggup bayar. Nah, itu urusan mereka.

Kita belajar hukum, dari konsep yang sederhana dulu ya. Oh ya, tahu enggak ikatan hukum yang nggak pernah lepas sampai seumur hidup kita. Ikatan hukum kita dengan orang tua. Mengikat sejak dalam kandaungan ada hak dan kewajiban yang menyertai di dalamnya. Kapan-kapan aku ceritakan, ya…..

Terimakasih udah menyimak, kira-kira teman-teman disini mau aku nulis apa lagi ya seputar hukum dalam keseharian?

Tulis di kolom komentar ya….

Lifestyle Blogger Indonesia yang tinggal di Madiun Jawa Timur.

13 Comments

  • Mechta

    Jadi, salah satu dasar perbuatan yg memunculkan akibat hukum itu kesepakatan ya mba.. meskipun lisan dan orang per orang.. thx sharingnya mba..

      • Rani R Tyas

        Seneng deh main ke sini jadi dapat insight baru soal hukum dan dituturkan dengan cara yang nggak mumet 😁

        Jadi soal perkara sederhana pun sebenarnya bisa diperkarakan kalau salah satu dirugikan ya? Contoh pedagang sayur tadi, ada pelanggan yang nggak mau bayar belanjaan sampai 3 bulan. Ini bisa aja dibawa ke ranah hukum ya kalau pedagangnya mau ngurus

    • Mechta

      Mba, kalau misalbya pinjam-meminjam secara lisan saja tanpa diikat dengan kesepakatan tertulis, lalu si peminjam ingkar janji dalam pelunasan, apakah itu berarti tidak dapat dibawa ke ranah hukum ya mba?

  • gina

    Baca artikelnya, berasa masuk ke dalam dunia perkuliahan, berapa SKS nih? Hehe. Saya tertarik belajar hukum juga, hmm namun agak pesimis terhadap praktek hukum di Indonesia, yang menurut saya sebagai orang awam, masih penuh ketidakadilan

  • Katerina

    Dari gambaran yang diceritakan, dapat dipahami kalau norma hukum dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya banyak ya. Dalam rumah saja, sesama anggota keluarga tidak diperkenankan saling menganiaya, menghina, dan menyakiti, itu hukum. Harus saling menghormati antar anggota keluarga juga hukum. Tidak sembarang buang sampah dalam rumah juga hukum. Dan lain-lainnya lagi. Tidak tertulis, tapi ada. Bener nggak mbak?

  • firsty

    persoalan hukum ini mesti disikapi dengan amat serius ya. apalagi sebagai blogger, mana sekarang udah ada uu ite, jadi orang-orang ga bisa sembarangan bicara di sosial media, ngeblog pun gak bisa bebas nulis. mesti di baca ulang berkali2 sebelum tekan publish

  • Vicky Laurentina

    Aku baru inget sekarang bahwa norma kesusilaan itu termasuk sumber hukum.

    Berarti, kalau ada cowok PHP-in cewek, apakah itu termasuk pelanggaran hukum juga? Atau menjadi PHP itu belum termasuk melanggar norma kesusilaan?

    PHP = Pemberi Harapan Palsu

    • Jihan Fauziah

      Mungkin yang nge-PHPin tuh nuraninya belum sampai ke situ. Kan, kalau norma kesusilaan sangsinya juga ada pada diri sendiri. Perasaan nggak enak misalnya. Bisa jadi tuh, perasaan tidak enaknya diabaikan. Hehehe

  • lendyagasshi

    Hukum pun kalau dibicarakan dengan bahasa sehari-hari dan pembicaranya ahli seperti kak Jihan, jadi tampak asik yaah..
    Biasanya orang uda defense duluan niih…kalau ngomongin hukum. Asa berat dan ujung-ujungnya gagal paham.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *