Hukum Keluarga

Ada ya Waris Untuk Anak Autis? Ada Dong, Baca!

Assalamu Alaikum sahabat Jihan. Semoga dalam keadaan sehat selalu, ya. Sebelumnya aku turut berduka cita atas meninggalnya kerabat atau saudara terdekat karena memuncaknya wabah corona di pertengahan tahun 2021 ini.

Kematian seseorang memang tidak akan membawa harta sepeserpun yang didapat selama di dunia kecuali amal dan kebaikannya. Harta yang ditinggalkannya akan menjadi harta warisan yang jika dimanfaatkan dengan baik berbuah amal untuk almarhum juga. Oleh karenanya, perhitungan waris tidak bisa disepelekan. Setiap yang berhak, harus diperhatikan. Termasuk hak anak autis.

Kalau aku ngobrol sama teman psikologi klinis, katanya autis itu ganguuan perkembangan saraf yang memengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan seorang anak untuk berkomunikasi, berinteraksi serta berperilaku.

Sedangkan menurut kententuan perundang-undangan, autisme  termasuk dalam kategori anak dengan kebutuhan kusus atau anak penyandang disabilitas. Dalam Pasal 4 UU Nomor 18 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, autis ini termasuk dalam  katagori penyandang disabilitas mental.

Anak Autis memiliki masalah perkembangan yang tidak biasa dan berpengaruh pada , gangguan fungsi pikir, emosi dan perilaku yang mengakibatkan permasalahan dalam interaksi sosial dimana sang anak tidak mampu membentuk hubungan sosial atau berkomunikasi.

 

Baca Juga :
Pengalaman Tangani KDRT

Sedikit Cerita Tentang Anak Spesial

Aku sebut saja dia anak spesial. Terlahir dengan kemampuan dan intelegent berbeda seperti kebanyakan orang. Dulu, waktu kuliah aku pernah ditawari jadi guru les privat. Bukan les sembarangan les.

Aku ngelesin anak autis. Dengan alasan mengumpulkan pundi-pundi rupiah, aku iyakan saja. Sehari 100k. Anaknya udah remaja. Usianya sekitar 12an. Deg-degan juga. Tapi karena guru les sebelumnya udah nata dia ya akhirnya, aku tinggal ngalnjutin gitu.

Aku juga udah diberi arahan sama guru les sebelumnya. Untuk kelas terapinya, memang ada sendiri. Aku diminta aja untuk ngajarin tentang ketrampilan. Anaknya punya rasa ingin tahu yang tinggi. Emang rada hati-hati, sih karena kadang emosinya sulit terkendali.

Orang tuanya minta, untuk lebih fokus pada ketrampilan, bahasa dan penghitungan uang. “Dia kan juga berhak bekerja nantinya, mendapatkan waris dari kami, dan hidup mandiri sepenuhnya,” Begitu kata orang tuanya.

 

Anak Autis Punya Hak yang Sama

Dalam pembahasan hukum, baru disebut anak apabila di bawah 19 tahun atau belum menikah.  Sehingga anak autis ini sebenarnya kedudukan di mata hukum masih sama dengan anak pada umumnya yaitu dilindungi oleh hukum melalui Undang-Undang No. 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak.

Meskipun begitu, dalam beberapa hal anak autis ini  lebih spesial. Oleh karenanya, ada aturan yang lebih kusus lagi mengatur adalah Undang Undang No. 8 Tahun 2016 tentang Disabilitas. Menurut Pasal 9 UU No. 8 Tahun 2016 tentang Disabilitas menyebutkan bahwa hak keadilan dan perlindungan hukum penyandang disabilitas antara lain:

Hak-hak Anak Autis

  1. Perlakuan yang sama di hadapan hukum
  2. Diakui sebagai subjek hukum
  3. Meliliki dan mewarisi harta bergerak atau tidak bergerak
  4. Mengendalikan masalah keuangan atau menunjuk orang untuk mewakili kepentingannya dalam urusan keuangan
  5. Memperoleh akses terhadap pelayanan jasa perbankan dan nonperbankan
  6. Memperoleh penyediaan Aksesibilitas dalam pelayanan peradilan
  7. Hak atas perlindungan dari segala tekanan, kekerasan., penganiayaan, diskriminasi dan/atau nperampasan atau pengambilalihan hak milik
  8. Memilih dna meninjuk orang untuk mewakili kepentingannya dalam hal keperdataan di dalam dan diluar pengadilan
  9. Dilindungi hak intelektualnya.

Besaran Nilai Waris yang Berhak Didapat Anak Autis

Karena dipandang memiliki hak yang sama dengan anak lainnya, maka urusan waris ini juga dianggap sama pula. Pada waris islam, laki-laki seyogyanya mendapatkan dua kali lipat yang didapat perempuan. Sedangkan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, waris itu dibagi rata dan sama. Tinggal memakai dasar hukum yang mana, intinya hak autis soal waris ini harus dapat sesuai ketentuan yang berlaku.

Apakah Anak Autis Bisa Memegang Uang Sendiri?

Bisa saja, kalau anak spesial itu sudah dewasa dan tidak sudah hilang gangguan mentalnya. Kalau tidak mampu, tentu harus ada walinya. Fungsi wali di mata hukum adalah membantu anak mengelola harta bendanya dan melakukan transaksi untuk mewakili kepentingan anak.

Jadi memang diharapkan wali itu yang benar-benar amanah. Tidak akan membelanjakan uang waris diluar kebutuhan anak. Disarankan, sih dari saudara sendiri.

 

Yuk, Hargai Hak-hak Penyandang Autis!

Keberadaan anak autis di lingkungan keluarga tidak boleh diabaikan. Karena bagaimanapun juga, dia tetaplah anak yang ingin bermain dan belajar. Kalau memang ada hitungan waris yang menjadi hak mereka, berikan! Bantu mereka mengelolanya dengan baik dan benar.

 

 

 

 

Lifestyle Blogger Indonesia yang tinggal di Madiun Jawa Timur.

9 Comments

  • Bunsal

    Indahnya Islam, tidak membeda-bedakan kecuali kadar iman dan takwa.

    Satu nilai indah, yang terasa semakin indah, ketika anak keturunan kita juga meyakini pemahaman yg sama. InshaAllah

    Great share mbak.
    Semoga anak-anak autis di Indonesia dan dunia, selalu mendapatkan haknya dengan baik. Aamiin

  • Prima

    Nice sharing mbak. Anyway, mungkin perlu dikonsistensi-kan, mau pake istilah anak autis atau anak spesial. Soalnya mbak Jihan di awal nyebut anak spesial, tapi later on balik lagi jadi anak autis.

    Terkait waris ini, mungkin saya mau share saja pengalaman kalau sebagai orang tua, kita itu perlu sedini mungkin menyiapkan wasiat untuk anak-anak kita. Karena apa lagi kalau bukan, kita nggak pernah tau kapan kita berangkat bukan. Jadi semakin cepat semakin baik. Apalagi ketika kasus penerima waris adalah anak spesial yang, potensi banget dimanipulasi orang.

    Soalnya, saya baru melek kalau ternyata urusan warisan itu sangat pelik ketika tidak ada kejelasan di awal.

  • Imawati Annisa Wardhani

    Wah bagus ternyata ada hukumnya, ya. Kalau masih spesial sampai dewasa dan sudah mendapatkan warisnya memang yang bisa diharapkan walinya ya buat mengelola warisan. Betul-betul harus cari yang amanah banget untuk jaga titipan hak orang lain.

  • Vicky Laurentina

    Pekerjaan rumah bagi para orang tua anak autis mungkin adalah menyiapkan anak ini supaya gangguan mentalnya tidak menetap hingga dewasa, supaya dia bisa memiliki kesadaran akan memiliki warisan dan bertanggung jawab atas warisannya ya.

    Aku penasaran, apakah selama ini di Indonesia sudah ada kasus perebutan hak waris atas suatu asset yang seharusnya menjadi hak milik seorang anak autis?

  • maya rumi

    selama ini aku gak kepikir loh mba untuk hak waris anak spesial ini seperti apa, alhamdullilah yah ternyata memang tidak ada pembeda dengan mereka yang tidak ada gangguan fungsi pikir, emosi dan perilaku tetap yang membedakan yah hanya jenis kelaminnya saja kalau di dalam islam.

    semoga untuk keluarga yang di titipkan anak spesial tetap dapat menjalankan atau memberikan hak mereka dan berbesar hati membantu mengelola dengan baik untuk anak spesial ini.

  • Zikri Fadhilah

    Di awal membaca judul, saya langsung penasaran soal bagaimana sang anak akan memegang dan mengelola uangnya dan langsung terjawab di bagian bawah ternyata. Untuk wali ini kembali lagi ke orang yang bener-bener amanah ya, ini sebenarnya yang sedikit “tricky”. Terima kasih untuk ilmunya mba.

  • Eri Udiyawati

    Anak autis memang perlu waris juga ya, Mbak. Karena nantinya dia juga butuh untuk memenuhi kebutuhannya. Setuju banget, jangan dipandan sebelah mata. Karena mereka anak spesial yang memiliki hak yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *