Pendidikan

Merasa Salah Jurusan Kuliah? Sebaiknya Pindah  Atau Bertahan? 

Assalamu Alaikum Sahabat Jihan! Aku bersyukur bisa menuntaskan apa yang sudah aku mulai  bahkan sampai hari ini aku masih berada di ruang lingkup jurusan kuliah yang aku pikir adalah  kuliah salah jurusan. Ya di jurusan Hukum. Terus bagaimana bisa bertahan sampai bisa ambil  profesi?

Fakultas Komunikasi jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran, sedetail itu dulu aku  menggambarkan kampus impianku pada waktu SMA. Aku pilih jurusan komunikasi, karena  pada waktu SMA itu aku lebih rela meninggalkan pelajaran untuk mengerjakan mading dan  majalah sekolah.

 

Unpad menjadi pilihanku karena setelah aku dalami, hanya Unpad satu-satunya kampus yang  punya Fakultas Komunikasi. Sedangkan kampus lain, masuknya FISIP jurusannya baru  komunikasi.

Aku memilih Fakultas Hukum Universitas Airlangga dan aku tempatkan di pilihan ke-3 saat tes SBMPTN sebagai penghormatan kepada orang tua. Doa Ayah dan Ibuku langsung tembus ke langit.

“Kalau kamu masuk Fakultas Hukum, kamu masih bisa bekerja di ranah komunikasi. Tapi kalau  kamu masuk Fakultas Komunikasi, kamu nggak bisa ambil profesi-profesi hukum seperti  pengacara, hakim, dan jaksa,” begitu kata Ayahku untuk meyakinkan masa depan anaknya akan gemilang.

 

Perjalanan Semasa Kuliah Salah Jurusan 

Ini seperti berakhirnya perang dunia ke-3 yang dimenangkan oleh Ayahku. Ujung-ujungnya, doa  orang tua yang mengiringi perjalananku sampai hari ini.

Bagiku bukan hal yang mudah bertahan dalam kuliah yang aku rasa salah jurusan ini.  Apalagi di semester awal perkuliahan. Kuliah suka ngantuk bahkan waktu ujian nyaris tertidur.

Ciri-ciri salah jurusan kuliah yang aku rasakan ini, kurang lebih sama dengan yang aku baca di  halaman kompas.com. Detailnya seperti ini :

 

Merasa Lebih Pintar Dibanding Profesor 

“Kuliah apa sih, ini? Aku tuh udah tahu bikin surat gugatan gimana. Surat Kuasa kaya gimana.  Hukum, ah gitu-gitu aja,” Begitulah gambaran pemikiran atau mindset-ku di awal kuliah saat  semester pertama.

Di kelas, aku bertanya bukan karena tidak tahu. Tapi karena sok pintar. Ini sering terjadi di kelas  Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Hukum Indonesia kala itu. Sesekali, aku sedikit mendebat  pernyataan yang tidak aku senangi meski dengan argumen yang kurang logis.

Aku tidak pernah mencatat seperti teman-temanku yang lain. Baca buku tentang mata kuliah  yang aku ikuti, juga jarang sekali. Ya, kalau merasa udah pinter ngapain belajar? Karena aku  merasa pintar di bidang ini, makannya aku nggak pernah belajar.

 

Sulit Konsentrasi Saat Kuliah Berlangsung 

Beberapa mata kuliah, sulit bagiku untuk menangkapnya. Seperti mata kuliah Hukum Adat,  Hukum Tata Negara, dan Hak Asasi Manusia (HAM). Rasanya ingin tidur di kelas-kelas itu.  Apalagi konsep-konsep yang diajarkan dalam mata kuliah itu bertentangan dengan hati nuraniku  sendiri saat itu.

Tapi perlu dicatat juga sih, bertentangan dengan hati nurani bisa jadi karena aku tidak memahami  secara keseluruhan dan enggan juga untuk memahami. Jadi, bukan kaya tisu yang mau menyerap  air gitu. Tapi batu yang sulit lunak meskipun udah ditetesin air sedikit demi sedikit. Mana  mungkin, bisa konsentrasi maksimal kalau otak masih kaya batu.

Nggak Tahu Rencana Hidup Setelahnya 

Teman-teman sekelilingku, begitu mantap dengan impian-impiannya di masa depan. Ada yang  benar-benar ingin jadi hakim, jaksa, kerja di corporate law firm, bahkan ada yang pengen banget  jadi diplomat.

Aku? Antara yakin dan nggak yakin bisa punya masa depan yang gemilang. Dan itu juga  berpengaruh pada gairahku untuk sekedar melangkah berangkat kuliah.

IPK Mengenaskan 

Aku merasa sudah lebih jago dibanding dengan profesor. Konsep pemikiran tentang Hak  Asasi Manusia dan suatu Negara, rasanya sudah jauh lebih baik. Aku percaya diri dengan  jawabanku kala ujian.

Selembar kertas hasil belajar di semester satu pun keluar. Hasilnya mengejutkan karena IP  pertamaku, nggak nyampe 3,00. Kali ini, sudah mulai yakin aku salah jurusan. Sahabat Jihan  tahu berapa IP pertamaku? 2,29. Sedih memang.

Lebih sedih lagi ketika tahu teman-teman selingkaran, satu kelompok belajar, dan bahkan teman  sekosan, IPK-nya jauh lebih tinggi dariku. Iya, teman satu kosan yang juga satu jurusan kuliah,  IP-nya 3,89.

 

Tetap Bertahan, Meski Salah Jurusan Kuliah 

IP mengenaskan, tidak membuat Ayahku geram. Beliau justru bertanya, “Kamu mau tetap  bertahan atau pindah jurusan? Kalau kamu mau pindah jurusan, harus masuk lewat jalur  SNMPTN lagi. Kalau tidak, Ayah tidak mau bayar biaya kuliah. Tapi kalau kamu bertahan, Ayah  mengizinkan kalau kamu masih tetap mengembangkan minat di bidang jurnalistik.”

Sejak mendengar ultimatum itu, rasanya nggak ada pilihan lain selain tetap bertahan. Aku masih  bisa gitu membayangkan bagaimana perjalananku ke depan menikmati belajar hukum sambil  ikut kegiatan jurnalis dan menulis.

Tapi membayangkan mengerjakan kembali matematika dasar dan psikotes agar lolos SNMPTN  lagi , seperti mimpi buruk di siang bolong. Karena memang terasa ajaib banget aku bisa ngerjain  soal matematika dasar saat SNMPTN dulu.

Lalu, bagaimana akhirnya aku bisa bertahan sampai mengambil profesi di kuliah salah jurusan  ini?

Belajar Membangun Impian 

Dari dulu aku percaya, Tuhan selalu ngasih petunjuk kalau kita niat dengan mimpi dan harapan  kita. Sejak Mata Najwa hadir di TV pada tahun 2009, aku baru tahu di tahun 2012 kalau Mbak  Nana (sok akrab banget nyebutnya) lulusan Fakultas Hukum UI. Karni Ilyas juga.

Dari situ, aku mulai berani membangun mimpi kembali. Tentu saja, bekerja jadi wartawan itu  harus punya IPK di atas 3,00. Aku masih punya kesempatan untuk memperbaikinya. Semester  dua, aku IP-ku jadi 3,5.

Menyusun impian dan menemukan sosok yang pas, adalah caraku untuk menentukan tujuan.  Ketika aku sudah menemukan gambaran yang jelas akan tujuan, jadi semakin yakin dengan  langkah yang aku ambil.

 

Hobi yang Mulai Menghasilkan 

Perasaanku sudah mulai lega ketika mendapat IP di atas 3. Aku mulai bisa beradaptasi dengan  cara belajar ilmu sui generis ini. Akhirnya aku kembali menulis. Waktu itu aku mulai lagi di  Kompasiana. Sampai akhirnya ikut lomba nulis lagi dan menang.

Aku juga ikut beberapa kali lomba essay hukum atau Karya Tulis Hukum yang diselenggarakan  kampus lain. Tidak jarang usahaku membuahkan hasil. Ada esaiku yang membuatku terbang ke  Makassar menikmati pertama kalinya naik pesawat.

Meskipun cara belajarku sudah tidak seekstrim saat semester dua, di semester selanjutnya aku  masih bisa mendapat IP diatas tiga. Aku aktif lagi menulis, bahkan dikasih kesempatan jadi  copy writer di salah satu startup kala itu.

Menjalani hobi selain rutinitas yang membosankan, adalah caraku untuk tetap bertahan dan berdamai dengan perasaan salah jurusan.

 

Restu Orang Tua Itu, Suatu Jalan 

Ayahku akhirnya merestui passion-ku memang. Tapi, aku tetap harus berada di jalur Ilmu  Hukum. Kami seperti menemukan win-win solution. 

Aku tetap berusaha menyelesaikan kuliah dengan baik, dan Ayah tetap membiarkanku  melangkah mengejar passion.  

Setelah 10 tahun aku berada di dua jalur itu, kini aku berani menyimpulkan mengambil  keputusan untuk menjadi diri sendiri dengan tetap menurut dengan orang tua menjadikan diri  lebih bernilai. Meskipun dalam perjalanannya memang tidak mudah.

 

Pertemanan yang Menyenangkan 

Ini yang tidak kalah penting dan harus aku ceritakan. “Bertemanlah dengan penjual minyak  wangi agar kamu tertular wanginya” pepatah itu ternyata benar. Aku beruntung dikelilingi  teman-teman yang semangat belajarnya tinggi.

Nggak cuma belajar hukum aja. Sebagian dari mereka sangat aktif di organisasi. Intinya, aku  beruntung berada di lingkaran pertemanan yang nggak pernah menyepelekan masa depan.  Semangat mereka, jadi nyetrum dan bikin aku mampu menuntaskan perkuliahan dengan baik.

 

Ini Jurusan Kuliah Pilihanku, Jadi Harus Aku Tuntaskan! 

“Dek, ini pilihanmu. Bukan pilihan Ayah. Kamu kan, yang mengetik Fakultas Hukum Unair  meskipun di pilihan-3?” kata Budheku, saat tahu IP pertamaku. Dari situ aku sadar, tugasku kala  itu hanyalah menyelesaikan apa yang sudah aku mulai.

 

Baca Juga :
Drakor Law School Bikin Kamu Paham Kenapa Harus Belajar Hukum

 

Bertahan atau Pindah Saat Salah Jurusan Kuliah? 

Pernah mengalami salah jurusan kuliah atau memang sekarang sedang mengalami salah jurusan?  Setelah 10 tahun aku melalui perasaan itu, aku berani mengatakan bahwa tidak ada yang salah  dalam sebuah pilihan.

Salah itu letaknya pada, kita yang tidak tanggung jawab dengan pilihan kita. Aku punya  kesempatan untuk pindah jurusan tapi aku memilih bertanggung jawab dengan bertahan karena  aku merasa tidak mampu bertanggung jawab ketika memilih untuk pindah jurusan.

Bagaimana dengan kalian? Dua-duanya, pilihan yang baik menurutku. Kalau memutuskan untuk  pindah, bertanggung jawablah. Kamu akan menjadi lebih baik dengan cara yang lebih baik juga  di pilihanmu itu. Begitu pula, kalau memilih untuk bertahan.

Sikap ini, bisa kita ambil tidak hanya dalam menentukan bertahan atau pindah kuliah. Tapi  dalam masalah-masalah lain dalam kehidupan. Bertahan atau lari dan mengejar yang lain semua ada  konsekuensinya sendiri.

Yang penting tanggung jawab karena sudah berani memilih.

Lifestyle Blogger Indonesia yang tinggal di Madiun Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *