Bisnis

Peluang Penyiaran Lokal Berkat Migrasi Televisi Digital

Assalamu Alaikum Sahabat Jihan. Semoga sehat selalu, ya. Yuk, sambut Migrasi Televisi Digital dengan memahami cara kerja TVdigital. November 2022 pemerintah bakal menutup seluruh akses TV analog, loh. Saatnya era baru TV Indonesia! Seperti apa?

Sebagai alumni TV lokal, eh iya belum cerita. Jadi, aku dulu itu sempat kerja di Sakti TV yang merupakan satu-satunya TV lokal Madiun yang masih bertahan. Aku mengambil peran sebagai reporter. Bentar sih, cuma 3 bulanan aja. Ketemu jodoh pendamping seumur hidupnya disitu ternyata.

Diantara ketatnya saingan industri penyiaran, Sakti TV menurutku masih bisa bersaing dengan menyajikan konten bernuansa budaya lokal, hiburan, dan industri lokal yang menarik untuk disimak.

Sayangnya, kualitas gambar dan suara yang disajikan kadang masih kurang jernih. Belum lagi, kalau harus bersaing dengan TV nasional yang saluran frekuensi lebih tinggi. Sehingga membuat minat masyarakat terhadap TV lokal ini jadi menurun. Apalagi anak remaja.

Kan sayang kalau pelaku industri TV lokal sudah capek bikin konten, eh penontonnya sedikit karena kualitas gambar dan suara kurang oke. Padahal kontennya sudah ciamik banget. Kalau kaya gini jadi menurunkan minat sponsor juga dong untuk ngiklan.

Adakah solusinya?

 

TV Digital Harapan Baru Industri Penyiaran

Masalah konten merupakan masalah produksi. Bisa atau tidaknya menyediakan konten berkualitas, tergantung bagaimana penyelenggara industri melakukan proses produksi. Beda cerita kalau sudah menyangkut distribusi konten. Masalah pendistribusian beda lagi. Jika teknis distribusi konten membuat kualitas tayangan menurun tentu menjadi permasalahan tersendiri.

Selama ini, pendistribusian konten produk televisi melalui TV analog berlaku 1 frekuensi UHF untuk 1 stasiun televisi. Dalam sistem penyediaan frekuensi, harus ada space di setiap kanal frekuensi antara yang satu dengan yang lain. Tentu saja space ini ada batasnya dong.

Menurut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, negara kita memiliki 28 kanal, jadi televisi yang dapat melaksanakan siaran hanya 14. Padahal berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika, yang minta izin siaran sekarang ini ada 50 siaran TV dan 2 siaran radio. Mau ditaruh kanal mana coba sebanyak itu.

Sakti TV tempat aku kerja dulu juga punya tower frekuensi sendiri di area yang lebih tinggi. Tower frekuensi tersebut, hanya bisa menayangkan Sakti TV saja. Pastinya, TV lain juga punya tower frekuensi sendiri-sendiri untuk bisa menanyakan siaran dengan jelas. Nah, beda tower beda kualitas dong, yang akhirnya mempengaruhi kualitas siaran juga.

TV lokal, kenapa disebut TV lokal pertama karena izin siarannya hanya ada di area lokal dan kedua karena TV lokal hanya memiliki pemancar di area lokal saja. Sedangkan TV nasional, selain karena izin siarannya mencangkup area nasional,  juga karena mereka memiliki tower-tower yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Bisa dibayangkan bagaimana TV Nasional harus memiliki satu tower frekuensi di setiap area tayang. Kalau ada 8 TV Nasional tersebar di 8 wilayah otomatis harus ada 16 tower agar siaran dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Tentu ini tidak efisien. Sedangkan TV lokal kenadalanya adalah jangkauan penayangan yang terbatas dan kualitas gambar serta suara yang harus bisa bersaing dengan TV Nasional.

Apakah migrasi TV Digital bisa menjadi solusi?

 

 

Peluang Penyiaran Lokal dengan Program Migrasi Televisi Digital

Meskipun kebijakan pemerintah ini menuai pro dan kontra, tapi yuk kita lihat sisi positifnya. Sebagai disclaimer, aku memakai contoh Sakti TV untuk tulisan ini karena memang aku pernah bekerja disana. Dan sampai sekarang akupun masih berhubungan baik dengan orang-orang disana. Jadi benar yang aku tulis berdasar pengalaman dan hasil diskusi dengan pelaku industrinya sendiri.

Migrasi Televisi Digital ini, menuntut pelaku industri penyiaran televisi melupakan tower frekuensi yang sampai saat ini masih digunakan sebagai pemancar untuk menayangkan TV Analog. Kalau dilupakan mau pindah kemana?

Ke hatimu! Hehehe bercanda. Jadi, dari sistem tower pemancar frekuensi UHF ini para pelaku industri penyiaran televisi berpindah menggunakan sistem multipleksing (MUX) yang dibangun di setiap daerah. Juru bicara Kominfo Dedy Permadi kepada CNN mengatakan seluruh infrastruktur sudah mengakomodir seluruh siaran televisi analog, termasuk TV lokal.

Jadi, migrasi televisi digital itu bukan perpindahan dari TV analog ke internet. Bukan seperti itu. Tapi perubahan penyiaran televisi dari sistem analog ke sistem MUX. Pengoperasian multiplexing dapat menyiarkan hingga 10 program secara bersamaan.

Kalau sebelumnya satu kanal atau satu tower frekuensi hanya bisa digunakan untuk 1 stasiun televisi, dengan MUX satu kanal pengoperasian multiplexing dapat menyiarkan hingga 10 program secara bersamaan. Lebih efisien bukan? Seperti ini kira-kira ilustrasinya :

Sistemnya, pelaku industri televisi bisa menggunakan MUX dengan menyewa kepada penyelenggara MUX yang sudah dipilih pemerintah di setiap area. Sakti TV sendiri, sudah memulai uji coba siaran digital per tanggal 9 januari 2021 di MUX Metro TV 34 UHF. Istilahnya simulcast, yaitu proses bersiaran TV Digital tanpa mengakhiri siaran TV Analog.

Terus, apa keuntungan TV Lokal dari program Migrasi Televisi Digital ini? Aku pribadi optimis sih ya, dengan migrasi TV digital ini akan memberikan peluang baru bagi TV lokal. Kenapa?

Lebih Fokus Menyediakan Konten Berkualitas

Kalau dulu, si TV lokal ini mikir produksi konten dan pendistribusiannya, sekarang bisa lebih fokus untuk produksi konten saja. Kenapa? karena distribusi siarannya kan udah diserahkan pada MUX.

Contoh seperti Sakti TV tadi, dia membayar sewa kepada MUX tentu saja dengan kententuan kontrak perjanjian yang jelas. Sakti TV bisa lebih fokus bikin konten, masalah penayangan sudah jadi urusan MUX.

Kalau ada troubel dalam penyiaran, bukan menjadi urusan Sakti TV lagi. Tapi penyelenggara MUX yang bertugas menyiarkan tayangan. Jadi dari sisi maintanance jadi lebih efisien.

Peluang Industri Penyedia Konten

Karena sudah fokus pada produksi konten saja, ada peluang baru yang bisa digarap yaitu peluang industri penyedia konten. Karena migrasi TV digital ini memungkinkan akan banyak muncul stasiun televisi beragam, tentu saja kebutuhan akan konten semakin tinggi.

TV lokal, berpeluang tidak hanya menyediakan konten untuk stasiun televisinya saja. Tapi juga bisa menjual konten di stasiun TV lain di area berbeda. Ini menjadi sebuah peluang kemajuan industri penyiaran televisi sekaligus menjadi peluang munculanya lapangan pekerjaan baru.

 

Mendorong Pelaku Konten Lokal Lebih Kreatif

Migradi TV Digital memungkinkan peningkatan kebutuhan konten yang beragam karena ruangnya semakin besar. Penyedia konten, dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi dan hiburan.

Migrasi Televisi Digital ini, bisa loh mendorong pelaku konten lokal untuk lebih kreatif dengan ditunjang sarana prasaran yang memadai. Ketika kebutuhan konten tinggi, masyarakat tentu saja menginginkan konten yang unik dan berbeda. Menurutku dari sini konten lokal masih banyak peluangnya.

 

 

Peluang Internet Cepat Berkat Migrasi Televisi Digital

Oh ya, tadi kan frekuensi TV analog berpindah pada frekuensi TV digital dengan menggunakan MUX kan ya? Terus frekuensi TV analog mau diapain? Ujung-ujungnya ya digunakan untuk kebaikan masyarakat juga.

Sekarang ini, kebutuhan akan internet cepat semakin tinggi. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Ditambah, hampir semua industri sekarang punya aplikasi. Butuh banget dong internet cepat.

Apa hubungannya internet cepat dengan Migrasi Televisi Digital?

Jadi, menurut Direktur Penyiaran, Kementrian Komunikasi dan Informatika Geryantika Kurnia di antaranews.com mengatakan siaran televisi analog saat ini menggunakan pita frekuensi 700MHz. Menghabiskan 328MHz pada frekuensi tersebut.

Kementrian Kominfo memperkirakan siaran televisi digital hanya membutuhkan 176MHz sehingga ada deviden 112MHz. Selain itu Indonesia juga akan memiliki cadangan 40MHz di frekuensi 700 MHz dengan sistem siaran televisi digital.

Keberadaan Internet cepat ini, merupakan program transformasi digital yang membutuhkan internet berkecepatan tinggi di berbagai sektor. Selanjutnya, dengan migrasi TV digital ada frekuensi ruang khusus untuk peringatan bencana. Sehingga masyarakat bisa mendapatkan peringatan bencana melalui televisi, radio, sampai ponsel. Canggih, bukan!

Makannya, ayuk dukung program ini! Mari kita sukseskan ASO agar segera pindah menikmati layar kaca yang lebih jernih dengan tayangan yang beragam!

 

 

Dasar Hukum Perubahan TV Analog ke Digital

Harus banget ya Migrasi TV digital ini? Haruslah, ini karena ada amanat dari UU Cipta Kerja yang disahkan November 2020 lalu.

Pasal 72 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja menyebutkan penyelenggaraan penyiaran dilaksanakan dengan mengikuti perkembangan teknologi, termasuk migrasi penyiaran dari teknologi analog ke teknologi digital.

Kalau udah ada aturannya begini harus dilaksanakan dong. Amanatnya paling lambat 2 tahun. Jadi, November 2022 semua TV harus beralih pada digital dan menghentikan TV analog.

Sebenarnya, wacana Indonesia untuk pindah dari TV analog ke digital itu sudah sejak 2008. Kita tertinggal jauh dengan negara lain.

Berdasar kesepakatan International Telecommunication Union (ITU) di Jenewa pada 2006, batas akhir dihentikannya siaran analog (analog switch off/ASO) beralih pada penyiaran digital dilaksanakan sepenuhnya oleh seluruh negara anggota ITU adalah 17 Juni 2015.

Udah terlambat banget kan negara kita. Makannya ASO harus disegerakan.

 

 

Tahapan Analog Switch Off (ASO)

Kementerian Komunikasi dan Informatika akhirnya menetapkan tiga tahapan dan jadwal penghentian siaran televisi analog atau Analog Switch Off (ASO).

ASO ini maksudnya yaitu penghentian siaran analog di suatu daerah yang dilaksanakan serentak oleh seluruh stasiun televisi. ASO ini, akan dilakukan secara bertahap menurut kesiapan daerahnya.

Adapun jadwal dan tahapan ASO sesuai Peraturan Menteri Kominfo Nomor 11 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penyiaran sebagai berikut:

Informasi lengkap mengenai daerah-daerah yang akan mengalami ASO menurut tahapannya dapat dilihat di Peraturan Menteri Kominfo Nomor 11 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penyiaran.

 

TV Digital : Bersih Jernih Canggih

Sebagai kreator, aku makin nggak sabar menyambut derasnya arus konten nantinya jika TV Digital terwujud. Sebagai masyarakat biasa, aku nggak sabar menikmati tayangan televisi yang lebih jernih dan beragam.

Semua masyarakat bisa menikmati kualitas gambar dan suara yang bagus dengan konten yang beragam. Termasuk kelompok masyarakat yang sampai saat ini menggunakan TV Analog atau TV tabung.

Caranya ada dua. Pertama dengan menggabungkan TV antena rumah biasa dengan set top box DVBT2 (STB) atau yang kedua beli TV digital yang baru? Hehehe. Kabarnya set top box akan dibagikan pemerintah grastis kepada masyarakat. Semoga terlaksana dengan baik.

Migrasi TV Digital, memang harus segera dilakukan meskipun yang aku dengar beberpa stasiun TV lokal dirundung keresahan. Beberapa dari pelaku TV lokal, takut jika migrasi TV digital ini membuat biaya produksi membengkak.

Coba kita pandang secara positif. TV digital ini merupakan yang terbaik untuk masyarakat. Dengan banyaknya kanal yang tersedia, pastinya juga akan meningkatkan kebutuhan konten. Produksi konten lokal, seharusnya menjadi lebih menarik. Karena dapat disiarkan dengan kualitas gambar yang lebih oke.

Masalah pemasukan, aku yakin semakin baik kualitas tayangan dan konten maka semakin besar pula potensi pemasukan yang bisa didapatkan. Aku sih, berharap TV lokal makin jaya setelah Migrasi TV digital. Semoga… Yuk, kita sambut dengan suka cita!

 

Sumber

https://siarandigital.kominfo.go.id/

https://www.cnnindonesia.com/

https://www.bppt.go.id/

https://www.antaranews.com/

https://kominfo.go.id/

Lifestyle Blogger Indonesia yang tinggal di Madiun Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *