Menulis

Terjebak Dalam Dunia Content Creator

Assalamu Alaikum Sahabat Jihan. Tulisan kali ini, aku mau merenungi perjalananku sebagai content creator. Kaya udah lama aja ngonten padahal baru kemarin sore. Tapi perlu disyukuri, H-100 hari menuju 2022 akhirnya aku mengakui diriku sebagai content creator. Jadi pencapaian yang luar biasa ini.

Kenapa jadi pencapaian luar biasa? Akhirnya aku memahami makna content creator sesungguhnya. Tahun 2008, istilah content creator belum setenar sekarang. Padahal, pembuat konten yang disebar baik lewat blog ataupun friendster juga udah banyak. Aku masuk di dalamnya. Karena suatu hal akhirnya berhenti, dan masuk lagi di tahun 2013an dengan platform tumbrl dan kompasiana. Berhenti lagi, sampai akhirnya aku sadar kalau aku harus menulis.

Nulis udah kaya kebutuhan kaya makan dan minum gitu, lah. Berkesan berlebihan ya? Tapi emang iya, loh. Waktu itu, aku merasa butuh rumah untuk menulis. Itu alasan pertamaku memulai blog pada tahun 2019 menjelang anakku lahir. Maklumlah ya, baru lahiran akhirnya tulisannya ya parenting semua.

Karena blog yang aku mulai di tahun 2019 eror, akhirnya bikin lagi di tahun 2020 yang niatnya untuk nulis artikel hukum aja. Eh, ternyata malah tergoda untuk ikutan berbagai lomba. Apalagi yang hadiahnya keren top markotop. Ambyar deh, niat nulis soal hukum. 2021 aku makin menyelami. Dari sini, aku mualai sadar kalau udah terjebak di dunia content creator.

 

Penasaran yang Terbayar

2019, aku bersyukur pernah punya rasa penasaran buanget tentang bagaimana cara dapet job dari ngonten. Apalagi di tahun itu, aku udah mulai nggak yakin bakal tetap jadi lawyer. Makannya kaya ngonten terutama ngeblog ini kerasa banget ngejar duitnya di tahun itu. Padahal baru mulai. Anehnya, ngejar duitnya lewat ngeblog lakok duitnya yang masuk dari profesi lawyer.

Awal-awal emang suka nulis parenting. Apalagi, kalau dapet job berkaitan parenting itu rasanya menggoda. Ternyata, semakin lama nulis parenting itu makin kering. Minder sendiri karena banyak banget yang ekspert. Kalau nulis pengalaman, berasa pengalamanku kurang kuat dasarnya. Akhirnya udah diakhiri menulis parenting karena merasa nggak nayman.

2020 aku perbaiki niat, “Ya udah, bikin ulang aja blognya dengan tulisannya hukum.” Niatnya sambil branding diri sebagai lawyer sekaligus untuk edukasi. Eh, la kok mulai ngerti cara kerja ngonten yang hasilin duit. Akhirnya ya sudah, pudar niatan nulis hukum aja. Pokonya gimana caranya tulisannya cuan ya itu ditulis. Apalagi kalau udah tergoda lomba. Makin gag terfokus isi blog.

Akhirnya aku tahu ada banyak banget lingkaran di dunia perkontenan ini. Ada yang emang ngejar duit mulu.  Ada yang tipe ikutan lomba dan kuis sana-sini. Ada yang benar-bener perhatikan kualitas konten dan distribusi yang mumpuni.

Apapun tujuannya ya memang nggak ada salahnya. Kadang memang niat itu terus berkembang seiring pemahaman datang. Belakangan aku mulai tertarik dengan kelompok yang terakhir. Dan kelompok ini baru aku sadari keberadaanya di tahun-tahun 2021 ini. Kelompok ini tu kaya greget gitu, loh ngontennya. Meskipun berkesan effort banget. Tapi namanya mau sukses apapun profesinya kan ya nggak ada yang instan, ya. Dari berkumpul dengan pencipta konten di kelompok yang benar-benar perhatikan kualitas ini, aku jadi lebih paham makna profesi content creator yang sebenarnya.

Dan saat aku paham, saat itu juga penasaranku bagaimana bisa dapat duit lewat ngonten khususnya lewat blog ini terbayar sudah. Capek ternyata kalau ngonten cuma ngejar duit aja. Meskipun yang dibutuhkan duit, tapi kan ya nggak asal gitu lah ya. Tanggung jawab content creator itu gede, loh.

 

Mulai Paham Tanggung Jawab Content Creator

Nggak cuma sebatas bertanggung jawab sama brand. Sejak aku memilih berkumpul dengan kelompok yang benar-benar perhatikan kualitas, aku jadi paham tanggung jawab content creator itu nggak kalah berat sama profesi dokter ataupun lawyer. Ada dampak langsung yang bisa dirasakan oleh masyarakat terutama yang mengikuti kontennya.

Content creator, seolah memagang kendali bagaimana masyarakat ini hidup dan tumbuh. Gaya hidup masyarakat hampir selalu dipengaruhi oleh content creator. Oleh karenanya punya value itu penting dalam profesi ini. Jadi nggak sekedar cuan gitu, loh.

2021 ini, aku mulai menata diri kembali. Menyusun value apa yang ada dalam diriku, untuk kemudian bisa diambil pelajaran orang lain. Aku menyusun kembali kira-kira content apa yang paling nyaman aku buat tapi tetap bisa cuan.

Nulis hukum pun cukup menantang karena search volume masih rendah. Terlebih, orang browsing pastinya kalau ada masalah aja, kan. Pembacanya aja masih kurang, apalagi sponsornya. Tapi justru ini yang bikin asik. Bagaimana aku melibatkan unsur hukum dalam kehidupan sehari-hari yang bikin orang sadar kalau keseharian mereka itu pasti ada kaitannya dengan hukum.

Aku rasa, minimnya search volume ini karena masih kurang pemahaman orang tentang hukum yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin lebih banyak yang paham kalau hukum itu berat dan selalu berkaitan dengan polemik yang begitu panjang. Meleburkan ilmu hukum agar lebih bisa dirasakan masyarakat luas, jadi tanggung jawan tersendiri ketika aku punya ilmu ngonten sekaligus hukum yang aku pelajari beriringan.

 

Menulis Nggak Hanya Sekedar Manis

Pada akhirnya, menulis itu nggak hanya tentang yang manis-manis maksudnya yang manis hasilin duit. Pernah suatu ketika ada DM instagram masuk bilang, “Mbak, pengacara tuh katanya sibuk ya? Kok Mbak sempat sih main instagram.” Ya aku jawab, ada keinginan pasti ada jalan. Keinginanku buat ngonten udah kaya kebutuhan juga. Bagaimanapun juga tetap harus diluangkan.

Tapi nggak selamanya kan kita ngonten itu buat diri sendiri? Ya, mungkin awalnya demikian. Tapi perlu disadari bahwa menajadi content creator, pada akhirnya itu kontenmu akan dinikmati dan dicari orang. Apalagi kalau kita udah mempublishnya. Mau nggak mau, ya itu artinya sebagai content creator memang turut andil dalam membentuk ekosistem masyarakat.

Ada peran di dalamnya. Saat kita sudah memilih mengambil peran disitu, tentu ada tanggung jawabnya. Kalau kamu content creator yang udah lama bergulat di dunia ngonten dan baca tulisan ini, anggap aja ini tulisan refleksi seorang blogger kemarin sore yang sedang membangun kesadarannya ketika sudah mengambil peran sebagai content creator. Selanjutnya…..

 

Baca juga: Ketika Salah Jurusan Saat Kuliah

 

Apa Tujuanmu Ngonten?

Saat kumpul dengan para pengusaha, mereka bilang ngonten itu ya menciptakan awareness akan produknya. Kalau ketemu anak muda, mereka bilang ngonten itu buat asik-asikan. Content Creator beda. Tujuan membangun awarness dan asik-asikan, bisa jadi alasan yang terlebur jadi satu. Dan ketika konten itu sudah menemukan penikmatnya, selanjutnya nilai apa yang bisa content creator berikan untuk mereka? Sudah terlanjur jebur, semoga semakin baik ke depannya.

Lifestyle Blogger Indonesia yang tinggal di Madiun Jawa Timur.

9 Comments

  • Imawati Annisa Wardhani

    Yailah emang kenapa kalo orang sibuk nggak bisa main instagram? Wkwk. Nggak paham sama yang ngomong deh 😅 keren Mbak Jihan semoga bisa makin fokus mengedukasi orang-orang tentang masalah hukum.

    Aku pun masih oleng kanan kiri nih buat memutuskan niche yang tepat untuk blog. Mulanya mau fokus di traveling, ndilalah pandemi yo aku kehabisan ide nulis tentang itu. Akhirnya sekarang tulis tentang hobi dan apa yang aku suka aja deh, ikut lomba juga masih suka milih-milih yang kira-kira ‘aku banget’ aja..

  • Fajarwalker.com

    Kalau tujuanku, sampai sekarang masih buat self healing sih. Jadi ajang penampungan ide yang terlalu sayang untuk dihempaskan tanpa mengabadi. Kadang sedih sih, karena sampe sekarang masih belum dapet job berbayar, mana aku pake hosting dan domain yang lumayan tiap taunnya hehehe. Tapi its oke, aku percaya kalau segala sesuatu yang dilakukan dengan rasa suka dan cinta, masalah uang pasti nanti ada jalannya.

    Tinggal kitanya, seberapa kuat konsistennya 🙁

  • Ariefpokto

    Dunia Content Creator memang bisa menjebak, tersesat dalam ombak konten yang besar, sampai lupa jati diri. Padahal personal branding itu penting sekali bagi content creator. Dan setuju, tujuan ngontennya buat apa, kalau Saya yang penting bisa sharing cerita dan bermanfaat bagi yang membutuhkan

  • herva yulyanti

    dari awal punya blog aku ga matokin mba harus nulis yang satu khusus makanya blogku gado-gado wkwk dulu ga ngejar cuan akhirnya cuan yang ngejar wkwk sekarang nulis ya nulis pokoknya pengen nulis aja pengalaman itung2 sebagai diari kekinian kalau aku sih :p

  • Rani R Tyas

    Duluuu sekali, aku pertama ngonten demi mengjournalkan kehidupan sehari-hari. Sekarang? Masih. Hahaha.. Konsisten sekali ya hidup aku!

    Pun, sekarang ikut lomba juga melihat dulu temanya. Kalau nggak “aku banget” ngapain mikir berat. Kecuali blogku kosong dan butuh diisi konten, maka aku bela-belain ikut lomba. Masalah menang kalah itu rejeki, urusan Allah. Bisa berproses ikut lomba blog itu udah luar biasa, menurutku. Sebab mengalahkan diri sendiri adalah yang terberat.

  • Andayani Rhani

    Semangat ngonten mba Jihan! Semoga tetap istiqomah dan selalu memberikan hal” yang bermanfaat. Saya banget nih kalau misalnya udah basah mending njebur sama berenang sekalian dari pada setengah” ye kann.

  • Eri Udiyawati

    Awal ngeblog ya niatnya buat ngilangin stress aja. Lama-lama dapat job, jadinya ya, campur aduk di blog yang satunya. Terus aku bikin blog baru yang tema khusus untuk traveling dan kuliner. Semangat ya, Mbak. Meskipun sibuk di kerjaan lain. Aku juga kadang keteteran ngeblognya karena harus fokus di kantor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *