Sehat

Menangkal Kanker Payudara Dengan Konsultasi Dokter Terpercaya

Assalamu Alaikum Sahabat Jihan. Bulan Oktober merupakan bulannya peringatan hari kanker payudara sedunia. Kali ini, aku ingin bercerita tentang seorang atasan yang sekarang sudah seperti teman. Namanya Endri Kurniawati. Aku mengenalnya di penghujung tahun 2015 sebagai redaktur salah satu media yang eksis sejak awal orde baru. Perawakannya begitu enerjik. Kalau tulisanku kurang sempurana, suaranya yang paling lantang menusuk dada. Tapi itulah yang bikin jiwa mudaku membara di bawah bimbingannya. Potongan rambutnya yang cepak, membuatku bertanya apakah dia memang itu gayanya sebagai jurnalis perempuan? Berkesan maskulin memang.

Aku baru paham, saat beliau berdiskusi dengan salah satu rekan kerja tentang cover buku pertamanya. Buku itu bercerita tentang kisahnya sejak divonis kanker hingga tiga tahun kemudian mampu bertahan. Sabtu, 31 Oktober 2015 buku itu pertama kali diluncurkan dan dibedah di kediaman pahlawan nasional H.O.S Tjokroaminoto di Jalan Peneleh VII, Surabaya.

Satu-satunya foto bareng Mbak Endri (Rambut cepak dengan kacamata). Aku yang sibuk sama ponsel karena dikejar deadline.

Ternyata, rambut cepaknya adalah pasca kemo yang dijalaninya sejak divonis kanker pada tahun 2012. Sejak itu, beliau mengubah gaya hidupnya dengan tidak makan sembarang makanan. Aku bersyukur bisa menganalnya dan belajar menulis dengannya pasca lulus sarjana.

Sempat menelfonnya awal tahun 2021 ini. Bertanya lebih dalam tentang kanker, karena kakak iparku juga tengah mengidap penyakit ganas itu. Sayang, kakak iparku tak terselamatkan. Penanganan yang kurang tepat dan berkesan lambat membuat nyawa tak selamat.

Sesuai prediksi dokter, kakak iparku hanya bertahan lima tahun sejak vonis kanker itu ada. Sedangkan Mbak Endri, mampu bertahan hampir 10 tahun. Aku pribadi bisa merasakan betapa hebatnya rasa syukur yang beliau panjatkan. 3 buku telah dia terbitkan untuk memberikan semangat pada penderita kanker.

SADARI Ancaman Kanker Payudara

Mbak Endri sedari awal sudah SADARI (Pemeriksaan Ancaman Payudara Sendiri). Sehingga, ancaman kanker payudara yang mulai menggrogoti tubuhnya bisa terdeteksi sejak dini. SADARI begitu penting agar penanganan medis juga segera dilakukan sebelum menunggu penyakit lebih dalam menggerogoti.

Sejak menemukan benjolan payudara pada tahun 2012, Mbak Endri pun segera melakukan tindakan medis pada tahun yang sama. Awalnya, dia menemukan adanya benjolan pada payudaranya setelah mandi. Karena waktu itu menstruasi, dia tunggu. Ternyata benjolan tidak juga mereda. Sehingga memutuskan untuk konsultasi ke dokter setelah menstruasi selesai.

Hasil pemeriksaan medis yang dokter lakukan padanya, menyimpulkan bahwa Mbak Endri terkena kanker payudara stadium dua dengan benjolan di dada berukuran 2,5 cm. Tentu ini mengagetkan baginya. Apalagi, Mbak Endri ini termasuk orang yang lifestyle-nya sehat. Seperti tidak merokok, tidak minum minuman keras, berolahraga rutin, dan termasuk pemilih juga dalam makanan.

Sempat tidak percaya. Makannya, dia juga meyakinkan diri dengan cara mencari pendapat lain atau second opinion dari beberapa dokter di beberapa rumah sakit. Sampai akhirnya memutuskan pengobatan di salah satu rumah sakit yang berlokasi satu kota dengan Ibunya yaitu di Kota Surabaya. Jadi setelah lama bekerja di Jakarta, Mbak Endri pun pindah ke Surabaya untuk menjalani pengobatan.

Untung saja, pihak kantor masih memberikan ruang baginya untuk berkonstribusi dari Surabaya. Bahkan selama jadi penyitas, Mbak Endri tetap bisa bekerja meskipun kantor pusatnya di Jakarta. Memang penting sekali kantor yang ramah kanker seperti ini. Mendukung setiap langkah penyitas, untuk selalu semangat dalam menjalani penyembuhan.

 

Menelisik Kanker Payudara Dengan Ilmu Jurnalisme

Berdasar data dari WHO 30,8% perempuan meninggal karena kanker payudara. Kejadian tertinggi terjadi pada kelompok usia 55-59 tahun. Meskipun begitu, banyak perempuan yang berhasil mengatasi kanker payudara karena deteksi dini dan pengobatan yang tepat.

Saat aku menelfonnya awal 2021 lalu, Mbak Endri bilang, “Banyak orang yang terlalu takut menjalani pengobatan kanker, sehingga termakan dengan mitos-mitos yang terdengar mudah tapi sebenernya justru membahayakan. Makannya aku tulis buku itu agar kesadaran untuk melakukan pemeriksaan medis itu semakin tinggi.”

Sebagai seorang wartawan, mendapatkan informasi yang tepat dan akurat dari sumber yang terpercaya menjadi satu kunci dalam mencari kesembuhan bagi Mbak Endri. Dia yakin, bahwa pengobatan yang tepat dengan bimbingan dokter yang tepat, tentu saja diringi dengan doa akan membuahkan hasil yang tepat pula.

Ada perasaan terpuruk memang setelah divonis kanker. Kata Mbak Endri, terpuruk boleh tapi jangan lama-lama karena kalau terlalu lama bisa memburuk. Pasca vonis, tentu saja harus bangkit. Karena kematian berasa dekat, hal yang patut dipertanyakan adalah sudah siapkah bekal kematian yang kelak dibawa?

Pertanyaan itu begitu mengusik Mbak Endri hingga memunculkan keinginan yang kuat untuk sembuh. Mencari informasi, menggali data, membaca refrensi, hingga bertanya sana-sini untuk membuat suatu keputusan yang tepat. Tentu saja, jika diberi kesempatan untuk hidup lagi ya mengumpulkan lagi bekal mati dan membuat hidup lebih berarti.

 

Dokter Sebagai Sumber Informasi Tepat

Ada banyak refrensi tentang penyembuhan kanker termasuk kanker payudara. Mulai dari yang tradisional atau pengobatan alternatif, sampai pengobatan medis. Mbak Endri sendiri lebih percaya pengobatan kanker payudara secara medis.

Menurutnya, pengobatan secara medis lebih ilmiah berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan. Ilmunya lebih masuk akal, tinggal PR-nya adalah menemukan dokter yang tepat untuk menangani penyakitnya itu.

Program SADARI (Pemeriksaan Ancaman Payudara Sendiri) juga merupakan anjuran medis untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini. Kementrian kesehatan sangat menganjurkan cara ini untuk awal deteksi.

Ikhtiar dengan Keyakinan

Pengobatan kanker payudara merupakan proses yang begitu panjang dan butuh spirit yang menguatkan. Oleh karenanya jika sudah yakin bahwa pengobatan medis adalah jalur yang terbaik, penting untuk memilih rumah sakit dan dokter-dokter andalan yang kompeten di bidangnya.

Selain itu, dokter yang mampu memberikan semangat untuk mencapai kesembuhan juga dibutuhkan. Karena penderita kanker tidak hanya butuh pengobatan secara fisik tapi juga secara mental.

Dokter yang tepat juga akan menunjukkan berbagai cara atau metode pengobatan sesuai kondisi tubuh penderita kanker payudara sendiri. Oleh karenanya, biopsi sebelum memutuskan metode pengobatan medis apa yang tepat menjadi alternatif untuk mendeteksi kanker secara lebih lanjut. Ada beberapa pilihan memang seperti operasi, rehabilitasi, hingga kemoterapi. Keputusannya harus dengan konsulatsi pada dokter lebih dahulu tentunya.

Semoga Bisa Jadi Kekuatan

Cerita Mbak Endri tadi, aku harap bisa menjadi penguat penderita ataupun penyitas kanker lainnya. Benjolan di dada, tidak boleh disepelekan. Kita harus lekas SADARI keadaan tubuh kita yang seutuhnya. Apabila ada yang ganjil, segera periksakan!

Tindakan medis adalah sebuah proses ikhtiar untuk mencapai kesembuhan. Sekalipun yang menentukan Tuhan setidaknya, perjuangan itu telah dilakukan. Bagi Mbak Endri, ketika Tuhan telah memberikan kehidupan kedua padanya, maka selanjutnya adalah bagaimana menjalani hidup yang sebaik-baiknya untuk lebih bermanfaat kepada banyak orang.

Sumber :

Buku Kehidupan Kedua Penyitas Kanker ditulis oleh Endri Kurniawati diterbitkan oleh Tampo Publishing

https://gco.iarc.fr/today/data/factsheets/populations/360-indonesia-fact-sheets.pdf

Lifestyle Blogger Indonesia yang tinggal di Madiun Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *