Pendidikan

Quarter Life Crisis Bukan Untuk Ditakuti Tapi Harus Dihadapi

Perasaan berkecamuk dalam dada, gelisah tentang tujuan hidup, risau dengan pekerjaan yang pas, bertanya tentang jodoh yang sesuai, bingung habisin duit dan nggak punya duit. Dada terasa sesak dan pikiran berasa tersendat. Aku kenapa ya? Jangan-jangan ini yang disebut dengan Quarter Life Crisis.

Pengertian Quarter Life Crisis

Menurut Azri Agustin, M.Psi., Psi, Psikolog Klinis Fakultas Psikologi UGM yang aku kutip dari official website UGM, mengatakan bahwa Quarter Life Crisis merupakan masa transisi dari fase remaja ke fase dewasa.

Pada masa transisi ini, seseorang usia 18-30 tahun biasanya mulai risau soal karir, asmara, dan juga keuangan.

 

 

Gejala Quarter Life Crisis

Menurut Azri Agustin, M.Psi., Psi, Psikolog Klinis Fakultas Psikologi UGM terdapat beberapa ciri seseorang memiliki quarter life crisis. Pertama, mulai ragu dengan kemampuan diri sendiri seperti bertanya “Apakah aku bisa, jangan-jangan aku gagal”. Kedua, adalah tidak termotivasi dan mulai ada kekhawatiran atau cemas terhadap masa depan. Ketiga, mulai kecewa dengan pencapaian yang sudah didapat. Terakhir, mulai mempertanyakan tujuan hidup seperti untuk apa aku hidup dan untuk apa aku dihadirkan di dunia ini.

 

 

Ini yang Terjadi Padaku

Aku mengalaminya saat memasuki usia 22 tahun. Dimulai dari perasaan cemas tentang permasalahan keluarga, karir, asmara, sampai yang terakhir keuangan di usia 25an. Waktu itu literasi tentang Quarter Life Crisis belum sebanyak sekarang. Jadi masih bingung menyebut ini perasaan apa.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam hidupku waktu itu adalah, hidup yang benar itu seperti apa? Pekerjaan yang pas seperti apa? Hubungan asmara yang ideal itu seperti apa, sih? Hubungan keluarga yang sehat itu memang ada? Dan yang paling nampol adalah pertanyaan apa sih, yang aku kejar dalam hidup ini sebenarnya?

Rasanya ingin keluar dari sangkar, tapi terjebak lagi ke dalam situ. Serasa, semua jalan buntu.

 

 

Mengakhiri Masa Quarter Life Crisis

Masa ini sebenarnya tidak bisa diakhiri dengan kehendak kita. Tapi bisa kita sikapi sesuai kemampuan kita. Jangankan untuk mengakhiri, untuk menyadari bahwa ini adalah masa transisi aja rasanya masih sulit waktu itu.

Pertolongan professional seperti psikolog, bisa sangat membantu untuk menata pikiran di masa ini. Saat pikiran sudah terurai, itu seperti menggabungkan kepingan-kepingan puzzle yang bercecer dimana-mana. Satu per satu, Tuhan menunjukkan jawaban dari segala yang aku gelisahkan.

 

 

Pelajaran yang Aku Petik

Ada satu momen, yang membuat aku sadar bahwa sebenarnya hidup ini nggak perlu ngejar apapun. Karena sebenarnya seseorang hidup itu sudah pasti mati. Kalau ujung-ujungnya mati apa yang mau dikerjar? Kita hanya perlu menikmati setiap fase hidup kita. Belajar dan terus belajar agar kelak bisa meninggalkan legacy yang penuh manfaat di dunia ini.

Setelah aku gali, nggak ada cara hidup yang paling benar kecuali kita terus bangkit dan belajar. Nggak ada juga perkerjaan yang pas, kalau kita nggak pernah mencoba menggambil resiko dari pekerjaan itu. Nggak ada hubungan asmara yang ideal kalau baik dari diri kita dan pasangan nggak bisa sama-sama pengertian. Akan ada keluarga yang sehat, kalau sama-sama paham cara menguraikan permasalahan dengan tepat.

Akhir dari masa quarter life krisisku mungkin, saat aku mulai paham tugas hidup ini adalah mencoba, gagal, bangkit, belajar, dan menebar tanpa perlu mengejar. Kalau kamu bagaimana dengan pengalamanmu? Sharing di kolom komentar, ya!

 

 

Lifestyle Blogger Indonesia yang tinggal di Madiun Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *