Belanja Bijak,  Bisnis,  Hukum Bisnis

Iklan Tidak Jujur dan Dilebih-lebihkan. Bagaimana Hukumnya?

Hallo sahabat Jihan, akhirnya aku nulis artikel pertamaku di tahun 2022. Gimana resolusinya? Ada resolusi mengganti sarapan nasi jadi roti nggak? Hahaha itu resolusiku, sih. Lebih suka roti dioles dengan Nutella atau Kental Manis Omela, Bendera, dan Indomilk? Tau nggak, produk yang aku sebutkan barusan pernah melanggar etika beriklan karena tayangin iklan tidak jujur.Pelaku usaha, copy writer, blogger, influencer, dan yang lainnya, pada intinya kamu yang bertugas bikin iklan, promosi, dan menyebarkan product knowledge di masyarakat. Kamu, punya tanggung jawab besar untuk memberikan informasi produk secara benar dan menyeluruh.

Apabila  suatu perusahaan atau individu terbukti membuat iklan dengan penuh rayuan dan tipu muslihat kepada konsumen, ada ancaman pidananya, loh! Nggak mau, kan! Niatnya cuan malah berujung di pengadilan berakhir dengan penjara denda atau kurungan. Menyedihkan!

 

Belajar Dari Kasus Iklan Tidak Jujur yang Pernah Ada

Ada banyak contoh kasus baik di Indonesia maupun di luar negeri tentang iklan tidak jujur, iklan bohong yang penuh rayuan sehingga menarik konsumen untuk membeli padahal kondisi produk yang digambarkan pada iklan tidak sesuai dengan kenyatan. Seperti contoh kasus-kasus berikut:

 

Kasus Nutella

Pada 2012, seorang ibu rumah tangga dari California bernama Athena Hohenberg mengajukan gugatan perwakilan kelompok (class-action) yang menyatakan bahwa Nutella berbohong dengan mengiklankan produknya sebagai makanan sehat. Perhatikan iklan di bawah ini:

Ibu tersebut sangat khawatir dengan iklan yang menyatakan Nutella mengandung bahan-bahan menyehatkan padahal menurutnya kandungannya hampir sama seperti kandungan permen.

Kabarnya, gugatan tersebut selesai pada 2012 yang berakhir dengan persetujuan hakim atas iklan yang Nutella yang tidak jujur. Sehingga, menghukum Nutella membayar membayar $3 juta (Rp. 39.3 milliar). Sumber disini.

 

Susu Kental Manis jadi Kental Manis Aja

Beberapa tahun lalu, BPOM mengeluarkan surat edaran bernomor HK.06.5.51.511.05.18.2000 tahun 2018 tentang Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3) menyatakan bahwa susu kental manis bukanlah produk susu yang digunakan sebagai pengganti susu penambah gizi dan susu kental manis hanya digunakan sebagai penambah dalam makanan dan minuman.

Iklan di atas bahaya banget yang menunjukkan bahwa kental manis itu bisa dikonsumsi dengan cara diseduh dan memang sebagai susu. Padahal konsumsi kental manis yang salah, berpotensi menimbulkan obesitas dan diabetes.

Iklan Kecantikan yang Janjiin Bikin Putih Tanpa Efek Samping

Belakangan, banyak iklan kecantikan mengganti kata memutihkan menjadi mencerahkan. Cerah bisa diartikan banyak hal. Sedangkan putih, seolah yang kulitnya dari lahir udah sawo matang bisa gitu, langsung jadi putih. Apalagi dengan iming-iming pemutih tanpa efek samping? Mungkin ya? Konsumen cerdas pasti paham jawabannya.

Bagaimana Etika Beriklan yang Jujur tanpa Tipu-tipu?

Dalam asas-asas umum tata krama dan tata cara periklanan Indonesia, secara garis besar menurut Renald Kasali dalam bukunya berjudul Manajemen Periklanan Konsep dan Aplikasinya di Indonesia, menyebutkan terdapat tiga asas umum dalam beriklan. Antara lain yaitu:

  1. Iklan harus jujur, bertanggung jawab, dan tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku.
  2. Iklan tidak boleh menyinggung perasaan dan atau merendahkan martabat agama, tata susila, adat, budaya, suku dan golongan.
  3. Iklan harus dijiwai oleh asas persaingan yang sehat.

Sedangkan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen periklanan diatur secara umum kewajiban pengusaha. Yaitu tertuang dalam Pasal 8 sampai dengan pasal 16 UU Perilindungan Konsumen.  Pastinya, panjang banget kalau aku sebutkan satu-satu disini.

Pada intinya, pelaku usaha memang dilarang mencantumkan informasi palsu, iklan palsu, dan iklan yang mengandung tipu muslihat untuk memperdaya orang membelinya.

Kusus, untuk ketentuan iklan tercantum dalam Pasal 17 UU Perlindungan Konsumen yang mentakan bahwa Pelaku Usaha dilarang memproduksi iklan yang :

  1. Mengelabui konsumen mengenai kualitas, kuantitas, bahan, kegunaan, dan harga barang dan/atau tarif jasa serta ketepatan waktu penerimaan barang dan/atau jasa.
  2. Mengelabui jaminan /garansi terhadap barang dan/atau jasa.
  3. Memuat informasi yang keliru, salah atau tidak tepat mengenai barang dan/atau jasa.
  4. Tidak memuat informasi mengenai risiko pemakaian barang dan/atau jasa.
  5. Mengeksploitasi kejadian dan/atau seseorang tanpa seizin yang berwenang atau persetujuan yang bersangkutan.
  6. Melanggar etika dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai periklanan.

 

 

Hak Konsumen dan Kewajiban Pelaku Usaha dalam UU Perlindungan Konsumen

Mentang-mentang yang jual produk pelaku usaha juga nggak bisa seenaknya. Namanya jualan ya harus punya etika. Kalau boleh dikata, jujur luar dalam itu penting. Jujur secara iklan, kemasan dan memang sesuai dengan isinya sangatlah berarti bagi konsumen.

UU Perlindungan Konsumen begitu melindungi hak-hak konsumen antara lain :

  1. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
  2. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
  3. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
  4. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
  5. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
  6. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
  7. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
  8. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
  9. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Sedangkan kewajiban pelaku usaha antara lain :

  1. beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;
  2. memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;
  3. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
  4. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;
  5. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang  dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan;
  6. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
  7. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

 

Baca Juga :
Tanpa BPOM, Pedagang Frozen Food Kena Denda!

Hukuman Pelaku Usaha Jika Menayangkan Iklan Tidak Jujur?

Pasal 20 UU Perlindungan Konsumen menyebutkan bahwa Pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.
Jadi, dalam UU Perlindungan konsumen dibedakan nih, pelaku usahanya sendiri dengan pelaku usaha periklanan. Kalau pelaku usahanya sendiri diatur dalam Pasal 17 tadi. Sedangkan pelaku usaha periklanan diatur dalam 20.
Bagaimana ketentuan pidananya?
Apabila, iklan yang dibuat oleh pelaku usaha periklanan merugikan, maka maka Pasal 60 UU Perlindungan Konsumen menegaskan bahwa Badan penyelesaian sengketa konsumen berwenang menjatuhkan sanksi administratif terhadap pelaku usaha yang melanggar Pasal 19 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 20, Pasal 25, dan Pasal 26.

Sanksi adminstratif yang dimaksud di atas, berupa penetapan ganti rugi paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). Gimana, cukup mencengangkan bukan dendanya? Maka, sebagai pelaku usaha harus hati-hati, nih. Jangan sampai iklan yang dibuat mengandung tipu-tipu.
Sanksi adminstratif yang dimaksud di atas, berupa penetapan ganti rugi paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
Sedangkan, untuk pelaku usahanya sendiri, disebutkan dalam Pasal 62 UU Perlindungan konsumen pelaku usaha dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
Gimana, cukup mencengangkan bukan dendanya? Maka, sebagai pelaku usaha harus hati-hati, nih. Jangan sampai iklan yang dibuat mengandung tipu-tipu.

Lifestyle Blogger Indonesia yang tinggal di Madiun Jawa Timur.

9 Comments

  • Andrie K.

    Wahhh bener banget, kadang dari iklan liat spesifikasi nya seperti itu ada kemauan aja suatu saat buat beli, ternyata efek-efeknya kalau gak digali lebih dalam lagi malah bisa membahayakan diri banget.. Apalagi soal susu ini, dulu waktu kecil suka banget ngemil susu sasetan tanpa diseduh.. Hadeh mesti dikurang-kurangin deh.

  • Momtraveler

    Sempet baca beberapa cerita gugatan di luar negeri yg berhasil dimenangkan konsumen. Ga kebayang klo di Indonesia bisa hehehe… klo liat iklam2 di Indonesia skr banyak juga yg ga jujur ya mbak. Sebagai konsumen harus cerdas, paling penting dan sederhana aja. Baca kandungan produk dgn teliti

    • Muslifa

      Iya banget ya. Bete kalo ada iklan produk yg jauh panggang dari api.
      Sayangnya, di Indonesia, jarang kita bisa melakukan penuntutan seperti contoh kasus Nutella di atas.
      Mudah2an entah kapan, ada yg bisa mengawali, sehingga keluarga Indonesia akhirnya bisa jauh berkurang dari iklan produk yang menyesatkan.

  • prim.

    Eh ngeri juga ya kalau mau nulis materi promosi ternyata menyesatkan konsumen/pembaca. Anyway, kalau case-case yang Mbak Jihan sebutkan di sini tuh, itu kalau saya mikirnya dari sudut pandang brand, bukannya mereka akan ngeles kalau itu customer yang salah pemahamaman/gagal paham ya? Walaupun iya, dari sudut pandang konsumen, iklan tersebut menyesatkan.

    Bukan begitu mbak?

  • Eni Rahayu

    Ganti rugi kalau iklannya gak jujur itu gede banget, ngeri deh. Memang ada banyak iklan yang walau jujur tapiii sedikit lebay, over claim, dll, jadi kita harus lebih teliti milih produk.

  • Lisa Maulida R

    Teringat dengan kasus dokter r*chard lee yang niatnya mengedukasi pemakai skincare dengan menelaah komposisi sebuah skincare yg diiklankan secara besar-besaran. Saat ketahuan komposisi skincare yg diiklankan ini ternyata abal-abal, yang ditangkap bukan produk skincarenya tapi malah si dokter. Itu jadinya rumit ya mbak Jihan. Yang berkuasa yang menang…

    • Ira Hamid

      saya kalo lihat satu produk dan disebut banyak memiliki keunggulan, auto langsung gak percaya. Menurut saya, produk yang bagus itu, satu produk hanya memiliki paling banyak 3 manfaat , bila manfaatnya diklaim lebih dari 3, maka saya otomatis akan menghindar untuk membelinya

  • lendyagassi

    Untuk tahu iklan tersebit JUJUR atau tidak, harusnya memang sebagai konsumen harus cerdas yaa..
    Jangan percaya begitu Dan senantiasa Kroscek bahan kandungan dari makanan yang sehari-hari Kita konsumsi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *